Home / Kolom Guru Besar / Menyikapi Gerhana Matahari (Prof. Dr. Ilyas Husti, MA)
ilyas

Menyikapi Gerhana Matahari (Prof. Dr. Ilyas Husti, MA)

Direktur Program Pascasarjana UIN Suska Riau

Allah SWT adalah zat Yang Maha Kuasa. Kekuasaan-Nya tidak ada yang dapat menandingan. Ia berkuasa atas segala sesuatu di alam ini, seperti firmanNya; ”Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Di antara kekuasaannya Allah tersebut adalah menciptakan gerhana baik gerhana matahari maupun gerhana bulan.

Gerhana matahari dalam bahasa al- Quran  disebut Kusuf. dan gerhana bulan disebut khusuf. Secara umum gerhana merupakan peristiwa tertutupnya sebuah objek disebabkan adanya benda atau objek yang melintas di depannya. Kedua objek yang terlibat dalam gerhana ini memiliki ukuran yang hampir sama jika diamati dari Bumi. Contohnya gerhana matahari dan gerhana bulan. Gerhana matahari terjadi saat posisi bulan terletak di antara Bumi dan Matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Meskipun Bulan berukuran lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.

Peristiwa gerhana merupakan fenomena alam yang ditunjukkan Allah SWT kepada hambah-Nya, agar ia menyadari betapa besar kekuasaan-Nya yang tidak bisa ditandingi oleh semua makhluk-Nya. Ada beberapa ajaran penting yang dapat diambil dari peristiwa gerhana tersebut antara lain;  Pertama, gerhana merupakan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah  yang menciptakan alam semesta ini, Ia berkuasa untuk menguasai dan mengaturnya. Tidak ada satupun yang dapat menghalangi Allah ketika Ia berkehendak untuk mengubah aturan alam di luar kebiasaannya. Peristiwa gerhana juga untuk menunjukkan betapa lemahnya manusia dan betapa agungnya Allah, maka manusia tidak layak untuk menyombongkan dirinya di hadapan Allah SWT.

Kedua,  gerhana merupakan kehendak Allah untuk mengingatkan hamba-hambanya agar tidak terbuai dalam perbuatan dosa dan maksiat serta dapat menyadarkan Mareka untuk segera bertobat kepada Allah SWT. Melalui peristiwa gerhana ini, diharapkan semua hambahNya menyadari bahwa Allah SWT Maha Kuasa atas segalanya dan Ia dapat memberikan peringatan yang jauh lebih dahsyat dari itu. Ketiga, bahwa kejadian-kejadian alam tidak ada hubungannya dengan kematian atau dengan kelahiran seseorang. Rasulullah SAW telah mengingatkan para sahabat ketika peristiwa gerhana terjadi pada waktu kewafatan putra beliau yang bernama Ibrahim, Beliau bersabda: Abu Musa Al Asy’ari.  RA , meriwayatkan bahwa pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW, Nabi lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadi hari kiamat, sehingga beliau pun masuk masjid kemudian beliau mengerjakan salat dengan berdiri, rukuk dan sujud yang lama. Aku belum pernah melihat beliau melakukan salat sedemikian rupa.

Kemudia Rasulullah bersabda; Sesungguhnya ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan-Nya. Gerhana tersebut tidaklah terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Akan tetapi Allah menjadikan demikian untuk menakuti hamba-hamba-Nya. Jika kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdoa dan memohon ampun kepada Allah. (HR Bukhari dan Muslim).

Setiap umat Islam yang menyaksikan gerhana baik gerhana matahari maupun gerhana bulan, disunatkan untuk melakukan hal- hal sebagai berikut:
Pertama, melakukan tafakkur dan tasyakkur. Umat Islam harus meyakini bahwa gerhana matahari dan bulan merupakan bukti kekuasaannya mutlak Allah SWT. Dan secara ilmiah dapat dipahami sebagai fenomena alam biasa yang dapat diperhitungkan secara akal sehat  kapan dan di mana akan terjadi.

Serta bukan karena mitos-mitos, seperti mitos-mitos yang berkembang di masyarakat sejak zaman Rasulullah sampai sekarang. Untuk itulah Rasulullah mengingatkan umatnya melalui Sabdanya; “Sesungguhnya Matahari dan Bulan tidaklah terjadi gerhana karena kematian seseorang dan bukan pula karena lahirnya seseorang. Akan tetapi, keduanya merupakan dua tanda di antara tanda-tanda (kekuasaan) Allah. Apabila kalian melihatnya, maka laksanakanlah salat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kedua,  melakukan salat, memperbanyak zikir dan istighfar. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan sebagai seorang muslim adalah melakukan salat, serta memperbanyak zikir, sedekah dan istighfar (meminta ampun kepada-Nya), bukan seperti yang dilakukan sebagian kalangan yang sibuk mengabadikan gerhana matahari tanpa melakukan salat dan mengambil hikmah darinya.

Ketiga, salat gerhana dilakukan secara berjamaah baik laki-laki maupun perempuan asalkan tidak menimbulkan fitnah. Salat gerhana dilaksanakan ketika proses gerhana mulai terjadi hingga gerhana selesai. Jika ketika salat gerhananya selesai, maka lanjutkan salat dengan mempercepat salatnya. Jika selesai salat gerhana, proses gerhana masih berlangsung, maka perbanyaklah membaca doa dan istigfhar kepada Allah SWT.

Semoga fenomena alam dalam bentuk gerhana ini dapat dijadikan sebagai bahan introspeksi diri serta  memperbanyak berzikir mengingat Allah, beristighfar memohon ampunan kepada Allah dengan mengharap agar keimanan dan keislaman kita tetap terjaga sampai hari akhirat kelak.

 

Diposkan Oleh Tim Liputan Suska News (Suardi, Donni, Azmi, PTIPD)

Dikutip dari Riau Pos Edisi Senin (07/03/2016)

redaksi@uin-suska.ac.id

About Editor

Check Also

akbarizan

Bulan Menuntut Ilmu (Prof Dr H Akbarizan MA MPd)

Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau Bila Ramadan datang kegiatan-kegiatan menuntut ilmu …