Home / Kolom Guru Besar / Memaknai Salam (Prof. Dr. Syamruddin Nasution)
syamruddin

Memaknai Salam (Prof. Dr. Syamruddin Nasution)

Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Suska Riau

Apa kini yang terjadi di masyarakat kita? Salam tersebarluas di kalangan     masyarakat bawah, tersebar (maaf) di kalangan mereka yang peminta-minta jalanan maupun yang datang ke rumah-rumah sehingga timbul kesan bahwa salam adalah milik orang rendahan dan orang pinggiran. Sampai begitu rendahnya nilai salam masa kini, agaknya begitu, sampai menyebabkan sebagaian orang Islam begitu malu mengucapkan salam, seakan tidak mau disebut orang pinggiran karena seolah-olah salam sudah milik orang pinggiran.

Pernah terjadi suatu ketika di Kota Pekanbaru Madani ini, ada mertua seseorang teman datang dari kampung mengucapkan salam ke rumah menantunya, tidak ada di antara penghuni rumah yang menjawab. Begitu menantunya tahu bahwa yang datang adalah mertuanya, kata menantunya membela diri “kami kira tadi yang datang pengemis peminta sedekah Pak, maka kami tak jawab salam Bapak”, dengan rasa malu menantunya bilang, maaf ya Pak!. Maka ketika itu salam telah menjadi milik pengemis.

Padahal dalam Islam makna salam begitu tinggi, hal itu dapat disimak dari kisah berikut ini; ketika Maryam bersandar ke pohon kurma menahan sakit menjelang persalinan, Malaikat Jibril datang menghiburnya “Goyangkan pangkal pohon kurma ke arahmu, makan, minum dan senangkanlah hatimu”. Kalau ada yang datang katakan: “Aku bernazar tidak bicara”. Ketika kaumnya melihat bayi digendongnya mereka menuduhnya telah berbuat zina, tetapi Maryam terdiam seribu bahasa sambil menunjuk bayinya. Maka ketika itu berbicaralah sang bayi menjelaskan jati dirinya dan berdoa: “Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku dan hari ketika aku hidup dibangkitkan kembali”. QS Maryam (19: 33)

Ketika Allah mengabulkan permohonan Nabi Nuh as agar menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana besar dan menenggelamkan orang lain (kafir) ketika dunia banjir besar. Maka Allah mengucapkan salam kepada Nabi Nuh AS setelah selamat dari bencana besar itu sebagai pujian yang baik kepada-Nya untuk diabadikan bagi orang-orang yang datang kemudian; “Salam kesejahteraan dilimpahkan kepada Nuh di seluruh alam”.

“Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”. Selanjutnya Allah memuji Nabi Nuh as. “Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami  yang beriman”. QS Ash-Shaaffaat (37: 76-82)

Ketika Nabi Ibrahim membenarkan mimpinya, dia dan anaknya Ismail pasrah dan berserah diri kepada Allah, Ibrahim membaringkan anaknya, ketika akan menyembelih anaknya, Allah menggantinya dengan seekor kibas, sungguh yang demikian itu suatu ujian yang berat. Maka Allah mengucapkan selamat kepada Nabi Ibrahim setelah dapat melaksanakan uijian yang berat itu sebagai pujian yang baik kepada-Nya untuk diabadikan bagi orang-orang yang datang kemudian; “Salam kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. “Demikianlah Kami memberikanm balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”. Selanjutnya Allah memuji nabi Ibrahim as. “Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami  yang beriman”. QS Ash-Shaaffaat (37: 103-111)

Ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa, Harun dan kaumnya dari bencana besar (tidak ditenggelamkan Allah di Laut Merah). Maka Allah mengucapkan selamat kepada keduanya setelah selamat dari bencana besar itu sebagai pujian yang baik kepada kedua-Nya untuk diabadikan bagi orang-orang yang datang kemudian; “Salam kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan  Harun” Selanjutnya Allah memuji keduanya “Sesungguhnya keduanya termasuk di antara hamba-hamba Kami  yang beriman”.

Seperti itulah halnya kepada yang lain, seperti kepada Nabi Ilyas, Nabi Luth, ketika mereka sukses dalam tugas masing-masing maka Allah mengucapkan selamat kepada mereka bahkan kepada penduduk surga sekalipun, Allah swt mengucapkan salam dan selamat.

Juga Allah menyampaikan selamat kepada Nabi Muhammad saw sewaktu Israk Mikraj ketika Allah bertemu dengan Rasulullah di atas langit yang ketujuh sebagai pujian yang baik kepada-Nya untuk diabadikan bagi orang-orang yang datang kemudian; “Salam kesejahteraan dilimpahkan atasmu wahai nabi beserta rahmat dan keberkatan dari Allah”.  Ucapan salam itulah kemudian yang diucapkan umat Nabi Muhammad SAW setiap mereka salat dalam bacaan tahiiyat akhir, dia dijadikan dari salah satu rukun salat yaitu membaca tahiiyat akhir, di dalamnya ada salam, demikian tingginya nilai salam dalam Islam.

Dari kisah-kisah di atas dapat menjadi bukti nyata bahwa ucapan salam atau selamat dalam Islam sangat bernilai tinggi. Salam itulah yang djadikan ucapan selamat dari Allah swt kepada para Rasul-Nya yang selamat dan sukses dalam menjalankan tugas masing-masing bahkan kepada Nabi Muhammad yang sukses bertemu dengan-Nya di Mustawa di atas langit yang ketujuh. Hal itu semua membuktikan betapa tingginya nilai salam dalam Islam.

Perkembangan berikutnya dalam sejarah peradaban Islam disebutkan bahwa fondasi awal Nabi Muhammad membangun masyarakat madani di awal beliau datang di Yatsrib adalah salam. Dalam pernyataannya Rasulullah bersabda; artinya “Sebarkanlah salam atas orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal, berikanlah makan dan tegakkan salat  sedang manusia lain terlelap tidur” (HR Bukhari Muslim)

Urgensi dan pentingnya salam disebarluaskan adalah untuk terjadi saling mendoakan antara satu orang muslim dengan orang muslim lainnya, baik yang sudah dikenal maupun yang belum dikenal. Lewat saling mendoakan akan terjalin silaturahmi. Dari silaturahmi akan muncul rasa kasih sayang. Masyarakat yang dibingkai dengan kasih sayang akan tercipta masyarakat madani terjauh dari saling bermusuhan dan pertikaian seperti masyarakat Yatsrib sebelum kedatangan Nabi Muhammad yang penuh dengan permusuhan antara kaum Arab Suku Aus dan Khazraj dengan kaum Yahudi suku Bani Nadhir, Bani Quraizah dan Bani Qainuqa’.

Akhirnya mereka menjadi masyarakat madani yang dibingkai rasa kasih sayang, antara lain, lewat bingkai salam.

Walaupun secara khusus Nabi Muhammad menyerukan kepada  umat Islam yang ada di Yatsrib agar menyebarluaskan salam di antara mereka, tetapi seruan yang sama juga diharuskan kepada umat Islam yang ada sekarang untuk terjalin silaturrahmi dan saling mendoakan dan  terpancarlah sinar kasih sayang di antara sesama anggota masyarakat sehingga tercipta masyarakat madani terhindar dari pertikaian dan permusuhan.

Selain dari itu, kepada semua kaum muslimin diajarkan Nabi doa memohon keselamatan setiap selesai dari melaksanakan salat agar mendapat kedamaian dalam menjalani kehidupan ini yaitu; “Allahumma antas salaam wa minkassalam wa ilaika ya’udus salam fa haiina Rabbanaa bis salam wa adkhilnal jannata daras salam..” artinya: “Ya Allah! Engkaulah keselamatan dan dari Engkau datang keselamatan dan kepada-Mu kembali keselamatan maka hidupkalah kami dalam keselamatan dan masukkanlah kami ke dalam Surga Daras Salam”.

(HR Muslim)
Kaum muslimin mesti kembali ke jati diri mereka, menyebarluaskan salam di antara mereka di mulai dari kalangan atas; para pejabat, orang terpandang, orang hartawan, orang besar, para artis muslim dan lain-lain agar terbentuk opini masyarakat bahwa salam adalah milik orang-orang hebat. Jadi, “agar salam terkesan hebat harus dimasyarakatkan orang-orang hebat” supaya umat Islam tidak kalah bersaing dengan “Helo, good morning” atau selamat pagi yang dimasyarakatkan Bill Clinton atau Obama dari “Gedung Putih” sana. Memangnya kita kalah dalam membentuk opini publik, agaknya begitu. Kalau begitu membentuk opini publik menjadi suatu keniscayaan bagi umat Islam. Wa Allahu a’lam bi ash-shawab.

Diposkan oleh Tim Liputan Suska News (Suardi, Donny, Azmi, PTIPD)

Dikutip dari Riau Pos Edisi Jumat (29/04/2016)

redaksi@uin-suska.ac.id

About Editor

Check Also

akbarizan

Bulan Menuntut Ilmu (Prof Dr H Akbarizan MA MPd)

Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau Bila Ramadan datang kegiatan-kegiatan menuntut ilmu …