Home / Kolom Guru Besar / Masa Sulit di Tahun Duka (Prof. Dr. Syamruddin Nasution)
syamruddin

Masa Sulit di Tahun Duka (Prof. Dr. Syamruddin Nasution)

Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Suska Riau

Bagi setiap orang, dalam perjalanan hidupnya, biasanya pernah terjadi masa-masa sulit. Di antara mereka ada yang tegar menghadapi masa-masa sulit tersebut akhirnya berhasil dalam perjuangannya, meraih yang dicita-citakan. Tetapi ada juga yang tidak mampu menghadapi masa-masa sulit tersebut. Mungkin karena patah semangat, akhirnya dia gagal meraih cita-cita yang didambakannya, dia terlupa kepada pepatah Melayu yang mengatakan “Sekali layar terkembang pantang surut ke belakang”.

Demikian juga Rasulullah mengalami masa-masa sulit dalam perjalanan hidup kerasulannya, walaupun sebenarnya Allah tidak pernah meninggalkan beliau dalam kesendirian. Ternyata kesulitan demi kesulitan silih berganti di dalam kehidupan Rasulullah dalam perjuangan hidupnya. Puncak dari masa-masa sulit yang dialami Rasulullah adalah ketika pamannya Abu Thalib meninggal dunia pada tahun ke-10 kenabian yang selama ini membela Rasulullah melalui pengaruh dan ketokohannya, kini telah tiada.

Kesulitan lain, wafatnya isteri tercinta Khadijah ra yang selama ini juga selalu mendukung dan menanamkan ketenangan kepada Rasulullah, berselang tiga hari dari wafatnya sang paman, kini isterinyapun telah tiada. Kepergian kedua tokoh tersebut sangat terasa berbekas rasa kesedihan dalam hati Nabi sehingga tahun kematian mereka disebut “Tahun Dukacita” dalam sejarah Islam.

Betapa tidak, dalam perlawanan gencar yang dilakukan kaum Quraisy terhadap Rasulullah, maka pamannya, Abu Thalib tampil memberikan dukungan. “Lanjutkan terus perjuanganmu wahai anak kemenakanku, paman ada di belakangmu”. Dalam sejarah, selagi pamamnya hidup, tidak ada satupun di antara pemuka-pemuka orang Quraisy yang bagak-bagak itu yang berani menyentuh Rasulullah. Maka Rasulullah terlindung di bawah pengaruh dan ketokohan pamannya Abu Thalib tersebut.

Sementara di saat Rasulullah memerlukan dana besar bagi membiayai dakwahnya membebaskan para budak yang tertindas, maka isterinya tampil memberikan hartanya dalam jumlah besar. “Kuserahkan hartaku ini kepadamu ya Rasulullah segala-galanya dan semua-muanya”. Maka dakwah Nabi sangat terbantu lewat harta yang diberikan isterinya.

Kini keduanya telah tiada, maka yang terjadi sepeninggal, Abu Thalib dan Khadijah adalah perlakuan orang Quraisy terhadap Rasulullah semakin brutal dan menjadi-jadi. Mereka sudah berani mencekik Rasulullah, melemparinya dengan kotoran unta tidak ketinggalan menghina dan mereka menyatakan tidak akan menerima dakwah Rasulullah, suatu hal yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Hal itu terjadi karena yang mereka segani sudah tiada.

Dalam kondisi seperti itu Rasulullah berharap penduduk Thaib dapat menerima dakwahnya sehingga beliau menuju Thaib. Tetapi penduduk Thaib pun menolak dakwahnya dan malahan melempari Rasulullah dengan batu sehingga pelipisnya terluka. Saat itu Rasulullah berdoa, artinya. “Ya Allah tunjukilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak tahu dakwah yang kubawa”. Di sinilah terjadi puncak masa-masa sulit yang dialami Rasulullah, hatinya benar-benar berdukacita sehingga disebut Tahun Dukacita.

Disebut sangat berduka, karena selain kedua pendukung utamanya wafat dalam waktu yang hampir bersamaan, perjalanan dakwahnya pun seakan mengalami jalan buntu. Ke mana lagi mau dihadapkan, orang Makkah tidak, orang Thaib juga tidak. Padahal dakwah ini mesti disampaikan. Ketiga hal itulah yang membuat hati Rasulullah sungguh sangat berdukacita tetapi tetap ada harapan ada jalan keluar dari kesulitannya. Dalam kondisi berdukacita seperti itu, Allah swt memberikan jalan keluar bagi Rasulullah dengan cara meng-isra mikraj-kan beliau dalam rangka, antara lain, untuk menghibur hati Nabi yang sedang bersedih itu.

Dari fakta sejarah di atas dapat diambil pelajaran bahwa kalau kita sedang berada dalam masa-masa sulit dari kehidupan ini perlu kiranya menghibur diri supaya semangat hidup muncul kembali untuk meniti kehidupan berikutnya sehingga dapat mengatasi masa-masa sulit yang sedang dihadapi.

Sewaktu bertemu dengan Allah swt dalam Isra Mikraj, hati Nabi sungguh sangat bahagia. Bersukacita dan terhibur, sampai-sampai beliau tidak ingin lagi pulang ke dunia, kalau tidak karena mengingat tugasnya menyampaikan dakwah. Padahal sebelum Isra Mikraj hati Rasulullah sangat bersedih dan berdukacita. Dalam pertemuannya dengan Allah beliau memohon agar dibantu menghadapi orang-orang kafir itu. “Ya Allah tolonglah kami dalam menghadapi orang-orang kafir itu”. (QS al-Baqarah; 2: 286)

Masa-masa sulit mulai surut karena permohonan Rasulullah sewaktu Isra Mikraj telah dikabulkan Allah swt. Maka setelah Isra Mikraj Nabi berhasil mengatasi masa-masa sulitnya dengan munculnya perkembangan besar bagi dakwah Islam, bukan dari orang Makkah dan penduduk Thaib, tetapi dari sejumlah penduduk Yatsrib yang terdiri dari Suku Aus dan Khazraj yang datang berhaji ke Makkah menemui Nabi dan menyatakan diri masuk Islam.

Sehingga pada tahun ke-13 kenabian  sebanyak 73 orang penduduk Yatsrib meminta Nabi agar berkenan pindah ke Yatsrib. Abbas paman Nabi, (yang saat itu belum masuk Islam) meminta jaminan dari orang-orang Yatsrib tersebut tentang keselamatan Rasulullah kalau  pindah ke Yastrib. Mereka berikrar memberikan jaminan. “Biar harta dan jiwa kami habis dan hancur akan kami pertaruhkan bagi keselamatan Muhammad,” ujar Abbas. Abbas mengizinkan kemenakannya itu berhijrah ke Yatsrib setelah mendapat jaminan dari penduduk Yatsrib.

Masa-masa sulit berakhir. Nabi berhasil mengatasinya tetapi muncul kesulitan lain, yaitu orang-orang Quraisy bertekad hendak memerangi Nabi dan kaum muslimin yang melindunginya dengan jumlah seribu pasukan pada tahun ke-2 hijrah. Izin perang sudah dikeluarkan Allah tetapi Rasulullah tidak terbiasa berperang, lagi pula jumlah pasukan umat Islam yang dapat terkumpul hanya tiga ratus orang melawan seribu orang. Kekhawatiran Nabi muncul karena jika jumlah pasukan yang kecil ini kalah dalam perang tersebut siapa lagi yang akan menyembah Allah di muka bumi ini?

Kembali Nabi memohon pertolongan Allah swt, maka tiga bulan menjelang perang Badr, Nabi selalu berdoa agar umat Islam mendapat pertolongan Allah swt. Kali ini pertolongan Allah swt datang melalui malaikat yang berbaris-baris. Permohonan Rasulullah SAW tersebut diabadikan Allah swt dalam Alquran, artinya, “Ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, dengan mendatangkan bantuan seribu malaikat yang datang berbaris-baris”  (QS al-Anfal: 9-12), sehingga hati Nabi tenang dan umat Islam menang dalam perang tersebut.

Tantangan perang dari kaum Quraisy terus berlanjut, dari Perang Badr, Uhud, Ahzab sampai Perjanjian Hudaibiyah semuanya berhasil diatasi Rasulullah. Terakhir, Penaklukan Kota Makkah pada tahun ke-8 Hijrah. Rasulullah mempersiapkan sepuluh ribu pasukan berangkat menuju Makkah,  menjelang Makkah pasukannya diberhentikan. Rasulullah mengutus sahabat mengajak Abu Sofyan dan anaknya Muawiyah serta pamannya Abbas masuk Islam, merekapun bersedia memeluk Islam. Dengan demikian penaklukan Kota Makkah berhasil sukses.

Rasulullah telah berhasil mengatasi masa-masa sulit, dengan penaklukan Kota Makkah orang  berduyun-duyun masuk Islam, masa-masa sulit telah berlalu. Mari kita contoh. Ya Allah berikanlah kepada kami banyak tantangan, tetapi berikan juga kepada kami ketabahan hati untuk mengatasinya, agar kami sukses menjadi bagian dari manusia terbaik! Wa Allahu a’lam bi ash-Shawab.

Diposkan oleh Tim Liputan Suska News (Suardi, Donny, Azmi, PTIPD)

Dikutip dari Riau Pos Edisi Jumat (13/05/2016)

redaksi@uin-suska.ac.id

About Editor

Check Also

akbarizan

Bulan Menuntut Ilmu (Prof Dr H Akbarizan MA MPd)

Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau Bila Ramadan datang kegiatan-kegiatan menuntut ilmu …