Home / Kolom Guru Besar / Menyesal Adalah Sebuah Fitrah (Prof. Dr. Afrizal M)

Menyesal Adalah Sebuah Fitrah (Prof. Dr. Afrizal M)

Guru Besar Filsafat Fakultas Ushuluddin UIN Suska Riau

Ada seorang guru, yang membawa tiga orang muridnya untuk melakukan tadabbur alam. Kegiatan tadabbur alam biasa dilakukan oleh sekolah-sekolah yang bertujuan untuk memperkenalkan kepada anak didik mengenai lingkungan sekitar yang harus dipelihara. Selain itu tadabbur alam juga dapat memecahkan kejenuhan peserta didik selama dalam lokal. Untuk kegiatan tadabbur guru itu membawa muridnya berkeliling di sebuah bukit yang ditumbuhi oleh kayu-kayu besar yang asri dan masih terpelihara dari pencemaran. Karena itu cuaca di lokasi tersebut cukup sejuk mendekati dingin dan memang dapat menenangkan suasana.

Sambil berjalan, kata guru itu kepada muridnya, wahai murid-muridku, alam semesta ciptaan Allah SWT ini diberikan untuk semua makhluk, dan yang terutama adalah manusia. Tugas manusialah memelihara dan melestarikannya, menjaganya dari tangan-tangan jahil dan tidak bertanggung jawab. Kamu boleh mengambil manfaatnya sesuka hatinya, tapi tidak boleh serakah. Oleh sebab itu, yang penting kamu harus pandai mengambil iktibar dari alam ini. Apapun yang kamu lakukan, dan bagaimanapun nanti kamu akan menyesal.

Lalu kata guru kepada muridnya, di kaki bukit ini ada sebuah gua, masuklah kalian ke dalam gua itu, lalu ambil dan bawalah apa yang kamu jumpai di situ dan kamu diberi waktu selama dua jam. Setelah itu kamu harus keluar, ada atau tidak ada yang ditemukan kalian harus keluar dan harus sampai di pintu gua jam sekian.

Setelah mendengar perintah gurunya, ketiganya berjalan ke pintu gua, mereka dapati ternyata dalam gua itu sangat gelap, timbul was-was bercampur malas dalam diri mereka, datang pula bisikan setan, apakah akan masuk atau tidak. Tapi mengingat ini perintah guru, akhirnya mereka masuk dan berkeliling dalam kegelapan gua. Karena gua itu sangat luas dan memiliki lorong-lorong yang banyak menyebabkan mereka terpisah satu sama lain. Setelah sekian lama berkeliling tidak diketahui apa yang dapat diambil, letih pun datang lalu mereka duduk sejenak sementara waktu tetap berlalu, mereka teringat pesan guru untuk mengambil apa yang dijumpai. Semakin sempit waktu yang tinggal, sedangkan yang akan diambil tidak dijumpai maka semakin besar kebingungan. Oleh sebab itu mereka berpikir untuk mengambil sesuatu seadanya, secara asal-asalan dan tidak teringat lagi untuk memperoleh yang lebih baik dalam gua ini.

Dalam mengarungi gua itu ketiga murid ini memiliki persepsi yang berbeda. Murid yang pertama, walau dalam kegelapan asik saja dalam petualangannya sehingga pesan gurunya itu tidak terlalu dihiraukannya, sehingga ia tidak menemukan sesuatu dan ia keluar dari gua tanpa membawa apa-apa.

Murid yang kedua hampir sama dengan murid pertama, tapi masih merasa risau kalau-kalau pesan gurunya tidak terlaksana sama sekali, dalam perjalanan ia menginjak benda-benda kecil yang cukup banyak yang dianggapnya batu krikil, karena itu ia ambil saja sedikit segenggam dalam perjalanan menuju pintu gua dan itulah yang ia pegang sampai keluar.

Murid yang ketiga lebih banyak kerisauan sehingga dalam perjalanannya keliling gua pesan gurunya lebih banyak terpikir baginya dibanding dengan yang lain. Karena itu ia hampir tidak sempat memperhatikan seisi gua itu. Lalu ia ambil apa saja yang teraba, diraihnya apa saja yang terjangkau oleh tangannya lalu ia masukkan ke dalam kantong celananya yang empat biji, dan kantong baju dua biji setelah itu ia keluar melalui pintu gua.

Setelah mereka bertiga kembali dan bertemu di pintu gua, mata mereka yang melewati kegelapan tadi terasa sejuk karena kondisinya sedah berubah menjadi terang. Di situ mereka saling bertanya tentang apa yang mereka alami masing-masing selama mengarungi gua. Yang pertama berdiri dengan sombong sambil berkata, saya tidak mengambil apa-apa karena tidak tahu apa yang mau diambil. Yang kedua berdiri sambil membuka genggamannya, ternyata yang terambil baginya adalah emas yang berkilatan dan matanya terbelalak melihat apa yang tidak ia sangka-sangka. Lalu yang ketiga juga mengeluarakn isi kantongnya, isinya juga emas yang memenuhi kantong celana dan bajunya ada. Pada saat itulah timbul penyesalan. Yang pertama menyesal kenapa ia tidak ambil sama sekali. Yang kedua menyesal kenapa sedikt sekali yang diambil, dan yang ketiga menyesal kenapa hanya enam kantong saja yang diambil, bukankah seharusnya bisa ambil lebih banyak. Yang jelas mereka menyesal.

Begitulah kiranya hidup di dunia ini ketika ia pulang ke akhirat. Ada orang yang menyesal di akhirat dengan ketiadaan amal sama sekali, dan tidak ada yang akan dilaporkan kepada Allah swt, dan neraka sudah menganga menunggunya. Yang kedua menyesal kenapa beramal tanggung, kurang maksimal, sangat sedikit pahala yang diterima. Yang ketiga juga menyesal kenapa tidak beramal lebih banyak. Tamsil ini mengingatkan bahwa apa saja amal yang dapat dilakukan penyesalan tetap saja terjadi. Yang paling menyesal adalah yang tidak beramal, yang banyak amal pun akan nyesal.

Oleh sebab itu, yang perlu dalam hidup ini adalah beramal semaksimal mungkin, biarlah menyesal pada apa yang dapat diperoleh dibandingkan dengan menyesal tanpa memperoleh apa-apa sama sekali. Menyesali yang sudah ada lebih daripada menyesal yang tidak ada.

Diposkan oleh Tim Liputan Suska News (Suardi, Donny, Azmi, PTIPD)

Dikutip dari Riau Pos Edisi Jumat (13/05/2016)

redaksi@uin-suska.ac.id

About Editor

Check Also

akbarizan

Bulan Menuntut Ilmu (Prof Dr H Akbarizan MA MPd)

Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau Bila Ramadan datang kegiatan-kegiatan menuntut ilmu …