Home / Kolom Guru Besar / Khutbah Rasulullah Jelang Ramadhan (Prof. Dr. Akhmad Mujahidin)
Prof.AMujahidin

Khutbah Rasulullah Jelang Ramadhan (Prof. Dr. Akhmad Mujahidin)

Guru Besar UIN Sultan Syarif Kasim  Riau

Jika tidak ada aral melintang, Insya Allah pada 6 Juni 2016 kita semua menjalankan ibadah puasa Ramadan tahun 2016. Oleh karena itu, ada baiknya kita  perhatikan khutbah Rasulullah saw sebagai bekal menghadapi bulan suci ini.

Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah swt dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah swt. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah swt. Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah swt membimbingmu untuk melakukan shiyam (puasa) dan membaca Kitab-Nya.

Dari Salman Al-Farisi ra berkata: Rasulullah saw berkhutbah pada hari terakhir bulan Syakban: Wahai manusia telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah swt menjadikan puasanya wajib, dan qiyamul lail-nya sunnah. Siapa yang mendekatkan diri dengan kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain. Siapa yang melaksanakan kewajiban, maka seperti melaksanakan 70 kewajiban di bulan lain. Ramadan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga. Bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rizeki orang beriman. Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun.

Keistimewaan Bulan Suci Ramadan
Rasulullah pernah bersabda: Jika sekiranya umatku mengetahui/sadar akan kemuliaan bulan suci Ramadan, maka mereka menginginkan semua bulan menjadi bulan Ramadan.

Pertama, orang yang gembira dengan kedatangan bulan Suci Ramadan, Allah mengharamkan api neraka terhadap tubuhnya. Rasulullah bersabda, artinya: Barang siapa yang gembira dengan datangnya bulan Ramadan, maka Allah mengharamkan jasadnya terhadap api neraka.

Kedua, bulan di mana Alquran diturunkan. Dalam Surat Albaqarah 185, artinya; Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).

Ketiga, penghulu dari semua bulan. Rasulullah SAW ketika berada di penghujung bulan Syakban, selalu mengatakan kepada sahabatnya: “Penghulunya bulan adalah bulan Ramadan dan penghulunya hari adalah hari Jumat. (HR Thabraniy).

Di Hadis lain, Rasulullah bersabda yang artinya: “Telah datang padamu bulan Ramadan, penghulu segala bulan. Maka sambutlah kedatangannya. Telah datang bulan shiyam membawa segala keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.” (HR Thabrani).

Keempat, Allah melipatgandakan pahala orang mukmin. Kelima, bulan penuh ampunan. Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan ihtisab, maka diampuni dosa sebelumnya.

Keenam, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan dirantai. Hadis Rasulullah artinya: Apabila telah datang bulan Ramadan, maka Pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan dirantai.

Ketujuh, terdapat malam Lailatul Qadar. Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?  Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Surat Alqadr: 1-5)

Kemuliaan dan fadhilah bulan Ramadan tersebut di atas, tentunya masih banyak lagi yang lain. Oleh karena itu, mari mempersiapkan diri dan jiwa kita untuk meraih semua kemuliaan dari bulan yang suci ini.

Takwa Tujuan Ramadan
Puasa merupakan tuntunan teologis bagi umat manusia. Puasa bukan hanya milik umat Islam tetapi hampir seluruh agama menyerukan umatnya untuk berpuasa. Selanjutnya, tujuan utama dari puasa adalah menciptakan manusia-manusia yang bertakwa. Lalu apakah semua orang yang berpuasa dapat mencapai derajat takwa?

Dalam Alquran, dipergunakan kata la’alla yang menunjukkan ”harapan” agar orang yang berpuasa itu dapat mencapai derajat takwa. Hanya saja, harapan ini bisa saja terwujud dan bisa juga tidak terwujud. Artinya, kemungkinan orang yang berpuasa bisa mencapai derajat takwa bisa juga tidak. Hal ini Rasulullah Saw telah mensinyalir jauh sebelumnya bahwa betapa banyak orang yang berpuasa tapi, tidak mendapatkan apa-apa. Sebagaimana Sabda Rasulullah artinya: Betapa banyak orang yang berpuasa, akan tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan haus  (hadis).

Lalu siapa orang yang berpuasa yang dapat mencapai derajat takwa? Allah SWT dalam Alquran telah menjelaskan kriteria dan ciri-ciri orang yang bertaqwa sebagai derajat yang paling mulia. Menurut M Quraisy Shihab, minimal ada empat  unsur dalam diri orang yang bertakwa, yaitu kemampuan untuk menahan diri untuk tidak melakukan kemaksiatan, kemampuan diri untuk melaksanakan perintah Allah SWT, kemampuan diri untuk senantiasa mengingat Allah SWT, kemampuan diri untuk senantiasa bersyukur kepada Allah swt.

Keempat unsur dalam takwa ini dapat terwujud dengan melalui ibadah puasa, sebagai ibadah yang melatih diri untuk menahan diri. Bahkan puasa tidak hanya cukup untuk menahan diri tetapi sebaiknya juga berpegang teguh kepada ketentuan Allah SWT dan Sunnah Rasul-nya.
Imam Al-Gazali menjelaskan tentang makna menahan diri dalam pelaksanaan ibadah puasa, minimal enam hal yang harus ditahan selain menahan hal-hal yang membatalkan puasa secara fiqhi: Menahan pandangan untuk tidak melihat melihat hal-hal yang tercela. Menahan lidah untuk tidak mengucapkan perkataan sia-sia. Menahan pendengaran dari hal-hal yang dibenci agama. Menahan anggota untuk tidak melakukan dosa. Menahan diri untuk tidak makan berlebih-lebihan, sekalipun itu makanan halal. Hendaknya seseorang berada di antara harap dan cemas tentang diterima tidaknya puasa .

Ketika orang yang berpuasa mampu menahan diri dari enam hal dan dari hal-hal yang membatalkan puasa serta melaksanakan rukun-rukunnya, maka kriteria orang bertakwa dapat diwujudkan melalui dengan puasa yang dilakukan. Dan pada saat itu, harapan untuk mencapai derajat takwa dapat terwujud melalui ibadah puasa.

Diposkan oleh Tim Liputan Suska News (Suardi, Donny, Azmi, PTIPD)

Dikutip dari Riau Pos Edisi Jumat (03/06/2016)

redaksi@uin-suska.ac.id

About Editor

Check Also

akbarizan

Bulan Menuntut Ilmu (Prof Dr H Akbarizan MA MPd)

Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau Bila Ramadan datang kegiatan-kegiatan menuntut ilmu …