Home / Kolom Guru Besar / Puasa yang Bermakna (Prof. Dr. H. M. Nazir)
Prof.H.Nazir

Puasa yang Bermakna (Prof. Dr. H. M. Nazir)

Ketua Senat Universitas UIN Suska Riau

Puasa yang kita jalani saat ini penuh dengan makna. Masing-masing individu mendapatkan hikmahnya. Bahkan tidak bisa dituliskan bagaimana bentuknya. Namun secara umum, puasa ini tujuannya yaitu ketakwaan, melahirkan sifat-sifat terpuji seperti kejujuran, kesabaran, ketabahan, kepedulian sosial, kedermawanan, kasih sayang, keramahan, dan toleransi.

Puasa yang lebih tinggi kualitasnya bukan hanya menahan diri dari perbuatan yang membatalkannya, tetapi juga menahan diri dari perbuatan-perbuatan tercela seperti: berbohong, menipu, memfitnah, bergunjing, mendengar yang tidak bermanfaat, melakukan kekerasan, menghina, dan mencaci-maki.

Pesan takwa dalam puasa ini perlu dipahami di tengah gejala menguatnya sentimen di kalangan barat terhadap Islam. Bahwa Islam adalah musuh barat pasca keruntuhan komunisme di Eropa Timur. Jauh masa sebelum keruntuhan komunisme, sentimen permusuhan itu sebenarnya juga telah ada, tetapi penguatan sentimen itu belum mendapat tempat, sebab ketika komunisme masih berdiri kokoh, barat mempunyai dua musuh, Islam dan komunisme.

Dalam pandangan Barat, Islam adalah agama teroris, terbelakang dan tidak beradab. Islam tidak lagi dilihat sebagai agama yang menawarkan kemuliaan, ketinggian, keharmonisan dan kebersamaan.

Terlepas dari permusuhan itu, yang jelas dunia telah memecah Islam menjadi dua dimensi asumsi. Pertama, adalah Islam dalam dimensi keselamatan dan keamanan. Kedua, Islam dalam wujud terorisme. Dimensi Islam dalam bentuk kedua ini benar-benar telah mengakar dalam benak sebagian besar masyarakat barat dan segelintir masyarakat Asia. Mereka melihat Islam adalah terorisme. Terorisme yang mereka tuduhkan terhadap Islam tersebut pada dasarnya merupakan pembajakan terhadap nilai ajaran jihad dalam Islam. Bom-bom yang diledakkan dengan jelas menunjukkan ideologi kekerasan yang dililitkankan dengan keagungan ajaran agama Islam. Islam oleh pengusung ideologi terorisme, dijadikan sebagai legitimasi teologis dan justifikasi untuk kekerasan yang mereka lakukan.

Kasus bom bunuh diri dan deretan pemboman lain di wilayah nusantara dengan kentalnya sentimen agama dalam lima tahun terakhir, selalu berakar pada konsep “jihad” di dalam Islam. Jihad kerap diartikan sebagai perjuangan fisik yang berbuntut pada penghalalan atas penyerangan, kekerasan, bahkan permusuhan terhadap pihak lain. Sebenarnya, terorisme dalam bentuk yang ultim seperti kasus bom bunuh diri, hanyalah sisi parsial dari ekstremisme beragama.

Bila Islam dilihat dari terorisme, maka Islam bukan lagi Islam yang berasal dari kata aslama yang berarti keselamatan. Tetapi Islam yang berasal dari azlama yang berarti aniaya dan kegelapan. Pada akhirnya kata ini akan merujuk pada kekejaman, kekerasan dan kebencian.

Bila Islam telah dipandang berasal dari kata azlama ini, maka bunyi Islam telah berubah.

Islam bukan lagi berbunyi Islam tetapi berbunyi Izlam, yang sesuai dengan asal katanya, azlama. Orang yang menganut paham izlam ini disebut muzlim. Bunyi izhlam dan muzhlim itu, tidak dapat dipungkiri memiliki bunyi sangat mirip dengan bunyi Islam itu sendiri. Sangat tipis perbedaan bunyi kedua kata ini. Sangat susah untuk membedakannya.

Padahal agama keselamatan bagi umat manusia. Sebab Islam berasal dari kata aslama yang berarti menyerahkan diri dengan ikhlas dan mengikhlaskan sebuah perbuatan atau pekerjaan.

Islam juga bisa berarti keselamatan dari sesuatu hal yang membahayakan, menyengsarakan atau gangguan dan ancaman.

Nah, semoga puasa kita bermakna bahwa Islam itu memberi keselamatan, bukan sebaliknya.

Diposkan oleh Tim LIputan Suska News(Suardi, Donny, Azmi, PTIPD)

Dikutip dari Riau Pos Edisi Rabu (15 Juni 2016)

redaksi@uin-suska.ac.id

About Editor

Check Also

akbarizan

Bulan Menuntut Ilmu (Prof Dr H Akbarizan MA MPd)

Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau Bila Ramadan datang kegiatan-kegiatan menuntut ilmu …