Home / Kolom Guru Besar / Religio Terapi (Prof. Dr. Khairunnas Rajab)
khairunnas

Religio Terapi (Prof. Dr. Khairunnas Rajab)

Guru Besar Psikologi Agama UIN Suska Riau

Ibadah dalam religio terapi Islam merupakan benteng yang menyelamatkan seorang individu dari belenggu fitnah maupun kehinaan. Ibadah adalah penguatan motivasi yang menarik minat setiap individu dalam menentukan arah, aktivitas apa yang harus dikerjakan atau ditinggalkan.

Religio terapi ibadah membuka peluang dan harapan sebagai sebuah perjuangan dalam mencapai kenikmatan dan pemaknaan hidup untuk kemudian berfungsi menumbuhkembangkan aspek-aspek fisik-psikologis. Kedua aspek fisikal dan psikologikal individu haruslah paralel dalam kesehatan yang bersinergi. Jiwa yang sehat ditandai dengan karakteristik dominan yang melekat pada kepribadian yang utuh. Jasmani yang sehat bukanlah jaminan mutlak, bahwa individu itu juga berjiwa yang sehat. Sebaliknya jasmani yang sehat memiliki karekteristiknya sendiri yang menjadi tahapan psikologis dalam meraih kesehatan mental.

Religio terapi ibadah melahirkan suatu sistem kejiwaan; dekat dengan Tuhan, bersilaturahim bersama elemen sosial, dan menjamin psikologis yang tenteram, tenang, dan bahagia. Sistem kejiwaan yang direkonstruksi religio terapi ibadah dapat menjadi jaminan kesejahteraan batin, mengikis kerak-kerak ketidaksehatan mental. Seperti gangguan mental akibat stres, depresi, psikosis, psikonerotik dan psikosomatik.

Religio terapi ibadah adalah salah satu metode yang memberikan latihan-latihan rohani aplikatif. Latihan-latihan rohani terjadwal seperti salat, puasa, zakat, dan haji telah terbukti tangguh membangun aspek psikologi dan aspek sosial kemanusiaan.  Seorang mushalli yang menghadapkan wajahnya ke Kakbah, menundukkan hatinya kepada Allah, mengikhlaskan diri sebagai hamba yang berkhidmat, khusyuk dalam bacaan dan gerakan-gerakan adalah sebentuk penjadwalan yang harus dikerjakan secara tertib dan teratur. Seorang muzakki membayarkan zakat dengan takaran kepada mustahik telah pula membangun pengentasan ketidaksejaran sosial menjadi kesetaraan sosial. Seorang shaim menahan dari segala yang membatalkan ibadah puasa, bermanifestasi kejujuran, di mana ia merasa diamati dan dikawal Tuhannya.

Diposkan oleh Tim Liputan Suska News (Suardi, Donny, Azmi, PTIPD)

Dikutip dari Riau Pos Edisi Sabtu (25/06/2016)

redaksi@uin-suska.ac.id

About Editor

Check Also

akbarizan

Bulan Menuntut Ilmu (Prof Dr H Akbarizan MA MPd)

Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau Bila Ramadan datang kegiatan-kegiatan menuntut ilmu …