Home / Kolom Guru Besar / Bangunlah! Kita dalam Bahaya (Prof. Dr. Alaidin Koto)
alaiddin

Bangunlah! Kita dalam Bahaya (Prof. Dr. Alaidin Koto)

Guru Besar Politik Islam UIN Suska Riau

 

Peringatan Allah SWT dalam surat  al-Nisa’  ayat 9 yang memberi warning agar para orang tua khawatir terhadap nasib anak keturunan sepeninggal mereka  nanti berada  dalam keadaan lemah, menuntut  kita untuk melakukan pemahaman dan perenungan lebih mendalam lagi akan hakikat pesan yang terkandung di dalamnya. Sebagai peringatan dari Zat Yang Mencipta segalanya dan menguasai jagat raya sampai ke alam baqa, peringatan itu tidak boleh hanya ditangkap secara harfiah dan dengan penghayatan yang dangkal. Pendayaupayaan secara maksimal akan potensi akal  yang dianugerahkan-Nya untuk memahami hakikat dari ayat-ayat yang diturunkan-Nya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari peringatan itu sendiri, sehingga hakikat itu tersingkap sebagai hikmah untuk beroleh   sebanyak-banyak kebaikan buat kehidupan.

Secara harfiah, kata “lemah”(dhi’aafa) yang ada dalam ayat tersebut berarti umum dan mengandung makna untuk semua bentuk sifat kelemahan, baik fisik, moral, ilmu pengetahuan, semangat, ekonomi, dan akhirnya iman. Tidak hanya untuk individu, tetapi juga komunitas dan masyarakat dalam arti yang seluas-luasnya. Begitu juga kata “keturunan” (zurriyyatan). Kata itu seharusnya tidak   dipahami terbatas hanya untuk anak cucu secara pribadi atau dari suatu rumah tangga tertentu, tetapi juga sebagai generasi penerus dari suatu bangsa dan negara. Artinya, peringatan dalam ayat di atas bukan hanya untuk para orang tua di setiap rumahtangga, melainkan juga untuk para pemimpin sebagai sosok yang dituakan di suatu negeri yang bernama bangsa atau negara. Indonesia adalah salah satu dari apa yang disebut sebagai bangsa atau negara tersebut.

Ibarat berlayar di lautan luas, Indonesia adalah kapal besar dengan jumlah penumpang terbesar ke empat dari “kapal-kapal” yang sedang berlayar di lautan luas dunia ini. Lebih dari 230 juta jiwa kini berada di atas kapal itu menuju sebuah “pulau cita-cita” yang pada intinya dapat disebut sebagai pulau “masyarakat adil dan makmur.”

Sebagai kumpulan manusia yang kemudian membentuk sebuah bangsa lalu bermustauthin di atas kapal itu menjadi anak-anak bangsa, sangat berharap bisa dan segera  sampai di pulau idaman dengan selamat. Berbagai macam rintangan, cobaan dan bahkan penderitaan mereka tanggung. Gelombang besar, badai dan angin puting beliung, karang yang menghadang di sepanjang pelayaran, mereka lalui dengan tabah dan sabar. Jiwa dan raga mereka pertaruhkan untuk kapal yang bernama Indonesia asal tujuan dapat dicapai. Tidak sedikit yang telah gugur dalam perjuangannya, bersimbah darah dan air mata. Mereka tinggalkan sanak keluarga, anak dan cucu melanjutkan cita-cita sambil berpesan, “teruskan perjuangan kami, sampai kalian atau anak cucu kalian bisa berlabuh di pulau tujuan.”

Kini, kapal itu telah berusia 71 tahun, usia yang untuk ukuran sebuah bangsa belumlah terlalu tua, tetapi untuk sebuah perjalanan waktu, sudah seharusnya menampakkan tanda-tanda kedewasaan dan kearifan. Usia yang seharusnya sudah dapat membaca apakah kapal ini kini masih kuat dan baik untuk meneruskan pelayaran, atau mulai rapuh dan lapuk sehingga terancam karam, atau ditarik orang lain ke “pulau lain,” bukan oleh pendiri dan anak-anak pendiri sebagai generasi penerus bangsa yang diwasiatkan Allah dalam surat al-Nisa’ ayat 9.

Dengan kata lain, masihkah kapal ini menjadi milik seutuhnya dari generasi penerus itu, atau telah “beralih tangan” kepada orang lain yang tidak terlihat secara nyata, tetapi terasa dalam jiwa dan gejala. Mereka mungkin penumpang baru yang tidak mengerti dan tidak juga menjiwai semangat dan arah yang telah ditentukan oleh pengorbanan para pembangun kapal, tetapi hanya sekadar menumpang dan mengambil kesempatan untuk tujuannya sendiri-sendiri. Atau, mereka adalah juga para generasi penerus, namun berbeda dari pendahulunya, punya tujuan dan kepentingan sendiri-sendiri, lepas dari tujuan dan kepentingan bersama sesuai arahan para pendahulu, sehingga mereka seperti orang lain, atau “mengoranglainkan” diri karena tujuannya yang memang lain dari tujuan anak-anak bangsa yang ada di atas kapal.

Mereka tidak melihat tujuan kapal dan keselamatan orang-orang yang di atasnya, melainkan tujuan dan keselamatan diri dan kelompoknya sendiri saja, sehingga membahayakan keselamatan kapal dan para penumpang yang sesungguhnya. Menurut mereka, Indonesia adalah kapal yang sangat kaya untuk dibiarkan hanya dikuasai oleh anak-anak bangsanya sendiri. Kekayaan itu harus dimiliki dan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kepentingan mereka, agar bisa eksis dalam persaingan global, tanpa harus mempedulikan para penumpangnya yang sudah merindukan pulau idaman sejak berpuluh-puluh tahun silam.

Penumpang, atau orang-orang seperti inilah kini yang sedang membahayakan negara dan  bangsa Indonesia. Mereka telah dan akan melakukan apa saja untuk menguasai negeri atau kapal ini dengan membuat para penumpang lengah dan lemah seperti diingatkan oleh ayat di atas: generasi mudanya dilumpuhkan dengan narkoba dan pornografi; anak-anak kecil dan bahkan bayinya diracuni dengan serum dan vaksin  palsu; orang tua dan elitnya dirayu dan dirusak dengan menumbuhkan pola hidup hedonis, mewah, lalu korup dan nepotis; persatuannya dirobek dengan menghembuskan atau “membiarkan” berkembangnya sentimen kesukuan, kedaerahan, aliran-aliran keagamaan, penggunaan media telekomunikasi yang amat bebas tanpa kontrol atas nama demokrasi dan hak-hak azazi; kenyamanan di jalan raya dikacaukan dengan jumlah kendaraan yang tidak terkontrol jumlah produk dan distribusi serta pelanggaran rambu-rambu yang seakan-akan dibiarkan; udaranya dicemari dengan asap kendaraan atau produk manufaktur yang membuang gas beracun secara sembarangan atau juga asap kebakaran hutan yang berulang dari tahun ke tahun; ekonomi rakyat kecilnya digilas oleh orang-orang berduit pemilik modal liberalis yang hanya tahu keuntungan untuk dirinya; pendidikannya dikacaukan dengan kurikulum yang sering membingungkan;  dan banyak lagi hal yang pada hakikatnya adalah penebaran virus secara massif untuk menyerang dan melumpuhkan semua sistem ketahanan tubuh penumpang kapal, mulai dari fisiknya, otaknya, semangatnya, persatuan dan kesatuannya, lalu imannya yang kemudian membuat para penumpang  disibukkan oleh penyakit dan masalah yang tidak kunjung selesai, sehingga tidak menyadari kalau kemudi sudah diambilalih, kalau haluan sudah mereka pindahkan.

Ibarat berada di medan perang, musuh sudah masuk dalam selimut, tetapi kita masih terlena dalam mimpi. Jerat sudah tersarung di leher, tinggal menunggu satu tarikan saja. Sekujur tubuh telah dibalut bensin, tinggal menunggu satu kali petikan api. Ketika jerat sudah ditarik, ketika korek api sudah petik, tubuh dilempar ke dasar laut, kapal dan isinya mereka bawa ke pulau yang mereka suka. Kita tidak melihat wajah mereka, tetapi merasakan bau tubuhnya.

Kita tidak tahu nama dan asal mereka, tetapi  merasakan bahaya mereka. Kita seperti orang yang sedang mimpi buruk berada dalam bahaya, tetapi payah bergerak menghindar atau melawan, perlu ada kawan atau teman yang akan membangunkan.

Maka, bangunlah wahai bangsaku. Dirimu dalam bahaya. Tanah pusakamu terancam bencana. Anak cucumu kan jadi mangsa. Singkirkan selimut “malam”mu. Hentakkan tumit kakimu. Istighfarkan mulut dan hatimu. Bangkitlah menuju air kehidupanmu. Halaukan setan yang membelenggmu. Ambillah wudu penyegar jiwamu. Rukuk dan sujudlah di haribaan Rabbmu.

Panjatkanlah doamu. Singkapkan jendela hatimu. Bukakan pintu rumahmu. Tuluskan niat dan citamu. Langkahkan kaki jihadmu. Kobarkan darah anak pejuangmu. Satukan barisanmu seperti salat berjamaah di belakang imammu. Satukan tekadmu karena tujuanmu memanglah satu, yaitu Tuhan yang menjadikanmu. Jangan hiraukan perbedaan di antara kamu, karena rida Tuhan hakikat perjuanganmu. Tetapkan hanya setan musuhmu, yang kadang-kadang berupa jin dan manusia seperti kamu. Merapatlah di antara sesamamu.  Bermusyawarahlah dalam perbedaanmu. Berlapangdadalah di saat ada yang tidak setuju. Berkasihsayanglah seperti ajaran Rasulmu.

Bangunlah wahai bangsaku. Perang ini bukanlah bedil atau meriam. Perang ini bukanlah nuklir atau yang semacam. Perang ini bukanlah fisik atau badan. Perang ini adalah pikiran dan perasaan. Perang ini adalah ilmu dan pengetahuan. Perang ini adalah antara kebenaran dan kezaliman. Inilah perang akbar. Perang melawan nafsu yang ingin cepat meraih kenikmatan, tetapi sengsara di akhir zaman.

Ingatlah pesan Tuhan ketika berfirman, “sungguh, jangka panjang itu jauh lebih baik bagimu dari jangka pendek.” Jangan hanya tahu nikmat sekarang, tetapi abai derita di masa datang.

Ingat anak cucu yang masih lugu. Nasib mereka tergantung dengan sikap dan akhlakmu.
Bangunlah wahai pemimpinku. Engkau jadi pemimpin karena rakyatmu, bukan karena partai atau kelompokmu. Engkau akan ditanya oleh Tuhanmu, adilkah Engkau kepada bangsamu

Diposkan oleh Tim Liputan Suska News (Suardi, Donny, Azmi, PTIPD)

Dikutip dari Riau Pos Edisi Kamis (11 Agustus 2016)

redaksi@uin-suska.ac.id

About Editor

Check Also

akbarizan

Bulan Menuntut Ilmu (Prof Dr H Akbarizan MA MPd)

Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau Bila Ramadan datang kegiatan-kegiatan menuntut ilmu …