Home / Kolom Guru Besar / Puasa Momen Revolusi Mental (Prof. Dr. Ilyas Husti)
ilyas

Puasa Momen Revolusi Mental (Prof. Dr. Ilyas Husti)

Dalam sejarah Islam tercatat ada dua belas bulan dalam setahun. Namun terdapat satu bulan yang amat mulia. Yang diperuntukkan Allah bagi hambah-Nya. Yakni bulan Ramadan atau yang lebih populer di tengah masyarakat dengan sebutan bulan puasa.

Bulan Ramadan disebut bulan puasa karena pada bulan itu umat Islam diwajibkan berpuasa. Yaitu menahan diri dari makan dan minum, serta berhubungan suami istri di siang hari dan menahan diri dari sesuatu yang dapat membatalkan puasa dengan tujuan untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

Bulan puasa memiliki banyak nama. Antara lain syahrul Rahman (bulan yang penuh rahmat, karena Allah menurunkan rahmat yang tidak terhitung banyaknya kepada umat-Nya), syahrul maghfirah (bulan keampunan, karena Allah memberikan keampunan terhadap dosa-dosa hambah-Nya yang melaksanakan ibadah puasa baik dosa yang lalu maupun sekarang), syahrul ‘iqqun min al-nar (bulan yang membebaskan hambah-Nya dari siksaan azab neraka), syahrul Quran (bulan Alquran, karena Allah menurunkan Alquran sebagai pedoman hidup umat manusia pada bulan Ramadan atau bulan puasa), syahrul lailatul qadar (bulan Lailatul Qadar, karena Allah menurunkan satu malam yang amat mulia pada bulan puasa tersebut yaitu malam lailatul qadar. Kemuliaan malam lailatul qadar itu, jauh lebih mulia dari seribu bulan) dan banyak lagi.

Secara harfiah istilah puasa dalam bahasa Arab disebut imsak yang berarti menahan. Yaitu menahan diri dari segala godaan hawa nafsu yang dapat membatalkan puasa dan ibadah puasa. Sesuatu yang membatalkan puasa adalah makan, minum, hubungan suami istri di siang hari dan segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa. Sedangkan yang membatalkan ibadah puasa antara lain adalah berbuat dengki, hasad, memfitnah orang, bergunjing,  berbohong dan lain-lain yang sejenisnya.

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Jabir Ibn Abdillah RA. Ia mengatakan ada sekelompok shahabat datang kepada Rasulullah SAW setelah mereka selesai dari Perang Badar. Mareka bertanya kepada Rasulullah SAW tentang dahsyatnya Perang Badar. Maka Rasululllah menjawab ‘’Kalian menuju kepada tujuan yang lebih baik. Kalian telah selesai melaksanakan jihad yang kecil menuju jihad yang lebih besar. Mareka bertanya, apa jihad yang lebih besar itu, ya Rasulullah. Rasulullah menjawab, “Jihad yang lebih besar itu adalah jihad malawan hawa nafsu.”

Dalam riwayat lain dikisahkan nafsu ini sulit ditundukkan atau dikendalikan. Ketika Allah menciptakan nafsu tersebut, Allah bertanya kepada nafsu itu, “Wahai nafsu siapa engkau dan siapa Aku? Nafsu menjawab, Engkau adalah engkau dan aku adalah aku. Lalu Allah menghukumnya dengan membakar nafsu tersebut selama empat puluh tahun. Kemudian Allah bertanya lagi seperti pertanyaan semula. Lalu nafsu menjawab sama seperti jawaban pertama. Allah menghukumnya lagi nafsu tersebut dengan merendamnya dalam air selama empat puluh tahun. Allah menanyakan lagi nafsu tersebut dengan pertanyaan yang sama dan nafsu pun menjawab sama dengan jawaban pertama. Kemudian Allah menghukumnya dengan mempuasakannya, setelah satu minggu berpuasa, Allah menanya nafsu tersebut dengan pertanyaan yang sama. Lalu nafsu menjawab “Engkau adalah Rabbku, dan aku adalah hambahMu”.

Mengacu kepada riwayat di atas, dapat diketahui bahwa nafsu ini merupakan lawan yang harus selalu diwaspadai. Jika tidak, maka ia akan dapat mencelakakan seseorang baik di dunia maupun di akhirat. Ada beberapa jenis nafsu yang harus diwaspadai antara lain.

Pertama, Nafsu Amarah, yaitu nafsu manusia yang paling rendah tingkatnya. Nafsu ini masih cenderung kepada pembuatan-pembuatan  yang maksiat. Orang dipengaruhi oleh nafsu ini, maka ia akan kelihatan jelek sifat  dan wataknya. Ia gampang teasinggung, pemarah, pendendam, dan  tidak bisa mengendalikan dirinya dengan baik. Dalam Surah Yusuf ayat 53, Allah menjelaskan “Sesungguhnya nafsu itu suka mengajak kepada jalan yang jelek (sesat), kecuali nafsu orang yang mendapatkan rahmat dari Tuhanku”.

Kedua, nafsu lawwamah, yaitu jiwa yang sudah sadar Dan mampu melihat kekurangan dirinya, dengan kesadaran itu ia terdorong untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat serta selalu berupaya melakukan amalan-amalan yang diridhai Allah SWT.

Dalam Surat al-Qiyamah ayat 2 Allah menjelaskan, “Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).

Ketiga, nafsu muthmainnah. Yaitu jiwa yang tenang Dan tenteram, karena nafsu ini tergolong tahap yang tinggi dan sempurna yang berada dalam kebenaran Dan kebajikan. Nafsu inilah yang dipanggil Dan di rahmat Allah SWT. Dalam Surah Al-ajr ayat 27- 28 , Allah SWT berfirman. “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan    hati yang tenang yang diridhai-Nya.”

Dalam perjalanan hidup manusia, ia selalu dipengaruhi oleh hawa nafsunya, dan hawa nafsu inilah yang akan melahirkan karakter atau sifat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Imam Al-Ghazali membagi karakter manusia itu menjadi empat macam. Yaitu Al-Rubu’iyah (sifat ketuhanan) yang terdapat pada diri manusia. Kedua, Al-Syaithaniyah, yaitu sifat “kesetanan” yang ada pada diri manusia yang apabila telah menguasai dirinya ia akan suka merekayasa dengan tipu daya dan meraih segala sesuatu dengan cara-cara yang jahat. Ketiga, l-Bahimiyah, yaitu sifat manusia berupa “kehewanan” yang apabila telah menguasai dirinya ia akan rakus, tamak, suka mencuri, makan berlebihan, tidur berlebihan dan bersetubuh berlebihan, suk berzina, berprilaku homoseks dan lain sebagainya. Keempat Al-Sabu’iyah, yaitu sifat “kebuasan” yang apabila menguasai diri manusia ia akan suka bermusuhan, berkelahi, suka marah, suka menyerang, suka memaki, suka berdemo, anarkis, cemburu berlebihan dan lain sebagainya.

Empat sifat tersebut di atas tidak tumbuh dan berkembang secara sekaligus tetapi melalui tahapan-tahapan atau secara berangsur-angsur.

Pertama kali yang tumbuh adalah sifat kehewanan “al-bahimiyah”. Melalui sifat ini manusia suka makan, tidur, seks agar dapat tumbuh sehat. Selanjutnya yang kedua adalah sifat kebuasan “alsabu’iyah” atau yang disebut dengan nafsu amarah “al-ghadabiyah”. Dengan sifat ini manusia dapat menolak sesuatu yang dapat megancam dan merugikan dirinya seperti ingin menyerang, membunuh, memaki, berkelahi dan lain sebagainya. ketiga yang tumbuh adalah sifat kesetanan “al-syaithaniyah”. Sifat ini tumbuh pada diri manusia setelah tumbuh sifat kehewanan dan kebuasan. Bilamana kedua sifat tersebut sudah ada pada diri manausia, maka setelah manusia mulai beranjak remaja dan dapat bergikirb,  maka berbagai cara akan dilakukan untuk memenuhi nafsunya. Di sini manusia akan melakukan tipu daya, makar, rekayasa demi mencapai apa yang diinginkannya.

Kemudian yang terakhir tumbuh dan berkembang dalam diri manusia adalah sifat ketuhanan “al-rububiyah”. Melalui sifat ini manusia ingin menguasai, memiliki segalanya, ingin berkuasa, menduduki jabatan setinggi-tingginya. Di sini manusia akan merasa berbangga diri, sombong, ingin dipuji, merasa paling benar dan lain sebagainya.

Puasa yang dikaruniakan Allah  kepada hambah-Nya, akan dapat menjadi benteng baginya dalam mengendalikan nafsunya. Dan inilah yang dapat dijadikan alat dan kekuatan dalam mengembalikan manusia kepada fithrah kejadiannya. Yaitu sebagai hambah Allah yang taat dan  patuh, serta tunduk kepada segala bentuk perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Jika semua ini dapat dilakukan oleh manusia sebagai hambah Allah, maka akhirnya tentulah akan menghasilkan kedamaian, ketertiban, dan  ketentraman dalam dirinya, keluarga, masyarakat dan bangsanya, sehingga terujudlah masyarakat yang baldatun thayyibataun wa Rabbun Ghafur. Inilah yang dimaksud dengan puasa dan revolusi mental.
Dikutip dari Riau Pos Edisi Senin, 28 Mei 2018

About nurazmi azmi

Check Also

nazir karim

’’Pembajakan” Nilai Jihad (Prof. Dr. HM Nazir Karim)

Tujuan puasa adalah mencapai ketakwaan. Ketakwaan adalah memelihara diri dari segala yang membahayakan dan menyengsarakan …