Home / Berita Utama / Akreditasi A, harga mati (Prof.Dr KH Ahmad Mujahidin S.Ag., M.Ag)
IMG_4119

Akreditasi A, harga mati (Prof.Dr KH Ahmad Mujahidin S.Ag., M.Ag)

uin-suska.ac.id         Nilai tinggi, tetapi tidak diterima di lapangan kerja. Apa yang terjadi ? Apakah nilai yang tinggi yang diperoleh di bangku kuliah tidak cukup ?  Ternyata dunia kerja, maupun penerimaan PNS memantau setidaknya 2 hal. Pertama akreditasi penyelenggara pendidikan, dan nilai mahasiswa bersangkutan. Maka wajar, akreditasi sebuah perguruan tinggi menjadi patokan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi. Tidak hanya dunia kerja, calon mahasiswa yang cerdas akan memantau dengan cermat  akreditasi sebuah universitas yang akan dimasukinya.

Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) merupakan satu-satunya badan akreditasi yang memperoleh wewenang dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi, memperkenalkan serta menyebarluaskan “Paradigma Baru dalam Pengelolaan Pendidikan Tinggi”, dan meningkatkan relevansi, atmosfer akademik, pengelolaan institusi, efisiensi dan keberlanjutan pendidikan tinggi.

Fungsi utama Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) menurut peraturan perundangan yang ada (UU No. 20 tahun 2003, PP No. 60/1999, SK Menteri Pendidikan Nasional No. 118/U/2003), pada dasarnya adalah: membantu Menteri Pendidikan Nasional dalam pelaksanaan salah satu kewajiban perundangannya, yaitu penilaian mutu perguruan tinggi, yaitu Perguruan Tinggi Negeri, Kedinasan, Keagamaan, dan Swasta.

Akreditasi bagi sebuah perguruan tinggi baik perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta menjadi ruh agar institusinya “dilirik” oleh calon mahasiswa dan pasar tenaga kerja. Beragam prasyarat agar sebuah perguruan tinggi bisa naik tingkat akreditasinya. Tentunya perguruan tinggi yang bersangkutan haruslah memiliki kemampuan menembus prasyarat yang ditetapkan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

Akreditasi BAN-PT bertujuan untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan. Ada tiga kategori akreditasi yakni A untuk perguruan tinggi yang memiliki peringkat kelayakan tertinggi. Disusul dengan kategori B dan C.

Akreditasi A menjadi visi UIN SUSKA RIAU saat ini. Menurut Prof Dr.KH Ahmad Mujahidin S.Ag., M.Ag menjelaskan bahwa akreditasi A menunjukkan bahwa sebuah perguruan tinggi telah menjadi level internasional. Secara maknawi, akreditasi A menjadi jalan bagi kampus untuk mencapai ” world class university”  yang lama telah di dengung-dengungkan. Tidak ada visi yang turun, akreditasi A  itu jauh lebih realistis cara memperoleh  ” world class university”.

Untuk mencapai akreditasi A yang telah menjadi tujuan bersama warga kampus, Rektor menjelaskan perlunya data yang valid tentang jumlah dosen, mahasiswa dan tenaga kependidikan. Karena data itu menjadi tolak ukur menghitung rasio fasilitas, perimbangan jumlah dosen dan mahasiswa. Fasilitas kampus  perlu ditingkatkan, tidak hanya dari segi kuantitas, tetapi juga kualitas. Peningkatan lainnya dari segi kualitas dosen. Guru besar perlu di pacu agar tetap produktif. Dosen yang masih doktor dibantu untuk mencapai tingkat guru besar.  Sehingga semua element di UIN SUSKA RIAU secara sinergi bekerja untuk mencapai visi tersebut. Beliau mencanangkan dalam 4 bulan, akan mengakreditasi 38 prodi di UIN SUSKA RIAU. Oleh sebab itu kerja keras dan kerja cerdas diperlukan selama 4 bulan itu. Beliau menyebutnya “puasa selama 4 bulan ” untuk menunjukkan keseriusan Dosen dan tenaga kependidikan  untuk mendapatkan akreditasi A tersebut. Berikut salah satu  pidato beliau tentang akreditasi A harga mati.

https://youtu.be/kwcbx3dMb3Q

 

Dalam rapat-rapat pimpinan, maupun acara briefing, bahkan dalam pidato di depan mahasiswa, Rektor menyebarkan visi akreditasi A tersebut. Semoga segera tercapai.

 

 

 

 

 

About khaidir alimin

Check Also

WhatsApp Image 2018-12-18 at 10.23.37

MAHASISWA ILMU KOMUNIKASI MENGADAKAN SONGKET ART FESTIVAL

uin-suska.ac.id             Sanggar songket berulang tahun yang ke-4, Mahasiswa ilmu komunikasi …