Home / Berita Utama / Rektor UIN SUSKA RIAU mempeingatkan bahaya gratifikasi di kalangan ASN
08 Oktober (28)

Rektor UIN SUSKA RIAU mempeingatkan bahaya gratifikasi di kalangan ASN

uin-suska.ac.id      Briefing kali ini senin tanggal 08 Oktober 2018 agak berbeda. Rektor memberikan arahan tentang larangan menerima gratifikasi. Rektor mengawali “arahannya” dengan mengemukakan ilustrasi tentang kisah Pejabat dizaman Rasulullah. Beliau mengawali arahan tentang kisah gratifikasi  pada zaman Rasulullah,  adalah seorang sahabat yang diangkat sebagai  seorang pemungut zakat (‘Amil zakat). Yang bertugas mengambil zakat kepada yang berkewajiban membayar zakat. Ternyata pembayar zakat dengan senang hati memberikan sedikit sedekah atau pemberian kepada petugas penarik zakat. Lama kelamaan, harta pemberian itu semakin banyak. Maka dengan ingin untuk membersihkan diri, petugas itu menanyakan kebersihan (halal) harta pemberian itu. Lalu Rasulullah bertanya, apabila kamu bukan sebagai petugas zakat, apakah kamu akan diberikan sedekah atau pemberian ?    Maka lajut Rektor, rasulullah menyuruh petugas zakat itu untuk mengembalikan harta itu. Video selengkapnya dapat disimak berikut ini :

https://youtu.be/vC6yVwNfDZE

Mari kita merujuk kepada undang-undang yang berlaku di negara kita. Menurut  Pasal 5 jo. Pasal 12 huruf a dan huruf b UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (“UU Tipikor”), baik pelaku pemberi maupun penerima gratifikasi diancam dengan hukuman pidana.

Gratifikasi dijelaskan dalam penjelasan Pasal 12B ayat (1) UU Tipikor    yakni :   Gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik.

Informasi lebih lanjut mengenai gratifikasi dapat dibaca dalam Buku Saku Memahami Gratifikasi yang diterbitkan Komisi Pemberantasan Korupsi (“KPK”). Di dalam buku tersebut (hal. 19) diuraikan contoh-contoh pemberian yang dapat dikategorikan sebagai gratifikasi yang sering terjadi, yaitu:

  1. Pemberian hadiah atau parsel kepada pejabat pada saat hari raya keagamaan, oleh rekanan atau bawahannya
  2. Hadiah atau sumbangan pada saat perkawinan anak dari pejabat oleh rekanan kantor pejabat tersebut
  3. Pemberian tiket perjalanan kepada pejabat atau keluarganya untuk keperluan pribadi secara cuma-cuma
  4. Pemberian potongan harga khusus bagi pejabat untuk pembelian barang dari rekanan
  5. Pemberian biaya atau ongkos naik haji dari rekanan kepada pejabat
  6. Pemberian hadiah ulang tahun atau pada acara-acara pribadi lainnya dari rekanan
  7. Pemberian hadiah atau souvenir kepada pejabat pada saat kunjungan kerja
  8. Pemberian hadiah atau uang sebagai ucapan terima kasih karena telah dibantu

Akan tetapi, menurut Pasal 12C ayat (1) UU Tipikor, gratifikasi yang diterima oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara tidak akan dianggap sebagai suap apabila penerima gratifikasi melaporkan kepada KPK. Pelaporan tersebut paling lambat adalah 30 hari sejak tanggal diterimanya gratifikasi (Pasal 12C ayat [2] UU Tipikor).

Yang dimaksud dengan “penyelenggara negara” disebutkan dalam penjelasan Pasal 5 ayat (2) UU Tipikor adalah penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, yaitu:

  1. Pejabat Negara pada Lembaga Tertinggi Negara;
  2. Pejabat Negara pada Lembaga Tinggi Negara;
  3. Menteri;
  4. Gubernur;
  5. Hakim;
  6. Pejabat negara yang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan
  7. Pejabat lain yang memiliki fungsi strategis dalam kaitannya dengan penyelenggara negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Diakhir penyampaian arahan Rektor mengenai Gratifikasi, beliau mengajak semua pihak di UIN SUSKA RIAU untuk mencari harta yang halal, menjaga anak dan keluarga dari memakan harta yang haram. Jangan sampai setelah menjabat, seseorang pejabat di UIN SUSKA RIAU dipanggil untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya yang berhubungan dengan gratifikasi tersebut. Diakhir briefing, beliau mengajak semua yang hadir untuk mengepalkan tangan dan mengemakan slogan UIN SUSKA RIAU  yakni ;

  1. Kompak
  2. Damai
  3. Selamat , dunia dan akherat.

Semoga demikian hendaknya  (sesuai dengan slogan itu), amin


08 Oktober (17)

08 Oktober (16)

08 Oktober (15)

08 Oktober (14)

08 Oktober (13)

08 Oktober (12)

08 Oktober (11)

08 Oktober (33)

08 Oktober (32)

08 Oktober (30)

08 Oktober (29)

08 Oktober (27)

08 Oktober (26)

08 Oktober (25)

08 Oktober (24)

08 Oktober (23)

08 Oktober (22)

08 Oktober (21)

08 Oktober (20)

 08 Oktober (18)

08 Oktober (16)

08 Oktober (12)\

08 Oktober (11)

08 Oktober (10)

08 Oktober (9)

08 Oktober (8)

08 Oktober (7)

08 Oktober (6)

08 Oktober (5)

08 Oktober (4)

08 Oktober (3)

08 Oktober (2)

08 Oktober (1)

01 Oktober (23)

01 Oktober (22)

01 Oktober (21)

01 Oktober (20)

01 Oktober (19)

01 Oktober (18)

01 Oktober (17)

01 Oktober (16)

01 Oktober (14)

01 Oktober (13)

01 Oktober (12)

01 Oktober (11)

01 Oktober (10)

01 Oktober (8)

01 Oktober (7)

01 Oktober (6) 01 Oktober (5)

 

About khaidir alimin

Check Also

WhatsApp Image 2018-12-18 at 10.23.37

MAHASISWA ILMU KOMUNIKASI MENGADAKAN SONGKET ART FESTIVAL

uin-suska.ac.id             Sanggar songket berulang tahun yang ke-4, Mahasiswa ilmu komunikasi …