Home / Berita Utama / Wisata sejarah : Sultan Syarif Kasim II
IMG_8670

Wisata sejarah : Sultan Syarif Kasim II

uin-suska.ac.id         Melaksanakan tugas menemani senat UIN SUNAN GUNUNG DJATI Bandung berwisata sejarah ke siak, dan mengantarkan tamu penting itu ke Bandara,  ada  pertanyaan-pertanyaan  salah seorang anggota senat yang menjadi Pr tersendiri bagi Humas UIN SUSKA Riau. Pertanyaan itu adalah :

  1. Adakah buku atau hasil penelitian Dosen UIN SUSKA Riau yang menjelaskan siapa Sultan Syarif Kasim itu ?  sebab namanya di pakai UIN dan bandara di Pekanbaru
  2. Apa yang dilakukan Sultan Syarif Kasim II ? sehingga UIN dan Bandara menggunakan namanya

Dosen UIN SUSKA Riau yang pernah  menulis tentang siak ada 4 orang

  1. Prof Dr Amir Luthfi
  2. Ellya Roza, M.Hum
  3. Dr Wilaela
  4. Dr Husni Thamrin

Untuk menulis tentang jasa Sultan Syarif Kasim, kami tidak hanya menggunakan referensi dari 4 orang cerdas tadi, tapi juga referensi lainnya.  Tulisan ini hanya sekedar mengumpulkan tulisan ahli mengenai  Sultan Syarif Kasim Riau, oleh sebab itu tidak cocok dijadikan referensi.

Kesultanan Siak Sri Indrapura adalah kesultanan terbesar di Riau yang didirikan seorang yang dikenal dengan raja kecil gelar beliau  Sultan Abdul Jalil Rakhmat Syah di tahun 1723. Sultan Syarif Kasim II diberi gelar sebagai sultan pada 13 Maret 1915 di usia 21 tahun untuk menggantikan sang ayah yaitu Sultan Assyaidin Hasyim I Abdul Jalil Syaifuddin yang meniggal pada tahun 1908. Ketika diangkat menjadi sultan, Syarif Kasim II diberi gelar Sultan Assyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syaifuddin.

Sultan Syarif Kasim II yang lahir di Siak Sri Indrapura, Riau, 1 Desember 1893 adalah Sultan Siak Sri Indrapura ke-12. Dia menggantikan ayahnya, Sultan Assyaidin Hasyim I Abdul Jalil Syaifuddin yang wafat pada 1908. Namun, dia baru dinobatkan menjadi sultan pada 13 Maret 1915, dengan gelar Sultan Assyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syaifuddin. Dia berkuasa hingga 1946.

Pemikirannya yang tidak disenangi Belanda yakni : Beliau menegaskan sikap bahwa Kerajaan Siak adalah kerajaan yang berkedudukan sejajar dengan Belanda. Hal ini tidak seperti isi kontrak perjanjian antara Kesultanan Siak dengan Belanda yang menyatakan bahwa Siak adalah milik Kerajaan Belanda yang dipinjamkan kepada sultan.

Kebijakannya yang terkenal yakni :

  1. Sultan Syarif Kasim II menyelenggarakan program pendidikan dengan mendirikan Hollandsch Inlandsche School (HIS) di samping sekolah berbahasa melayu yang diperuntukkan bagi semua lapisan penduduk.
  2. Tak hanya itu, permaisuri Sultan Syarif Kasim II, Sarifah Latifah, juga turut mendirikan sekolah khusus untuk perempuan pertama di Riau (Wilaela, Sultanah Latifah School di Kerajaan Siak,2014: 130). Sekolah yang bernama Latifah School tersebut diresmikan pada 1926.
  3. Sarifah Latifah keburu wafat, permaisuri kedua, Tengku Maharatu memagang kendali melanjutkan perjuangan. Selain mengelola Latifah School, ia juga mendirikan asrama putri, taman kanak-kanak, serta menggagas sekolah perempuan lainnya bernama Madrasyahtul Nisak (Adila Suwarno, dkk., Siak Sri Indrapura, 2007: 73).
  4. Untuk mempermudah transportasi bagi para siswa, dia membuat perahu penyeberangan yang dapat digunakan tanpa biaya. Memberikan beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke luar daerah seperti Medan, Padang, dan Batavia.
  5. Dia juga mendirikan Taufiqiah Al-Hasyimah sekolah agama khusus laki-laki Tak tanggung-tanggung, tenaga pengajar didatangkan dari Padang dan Mesir.
  6. Sultan Syarif Kasim II sendiri terus menentang Belanda melalui gerakan diam-diam. Salah satunya memberi dukungan kepada “pemberontakan” Si Koyan pada 1931, yang dilancarkan oleh mereka yang tidak sudi dijadikan pekerja paksa (Tenas & Nahar Efendi, Lintasan Sejarah Kerajaan Siak Sri Indrapura, 1972: 53). Penentangan ini oleh pihak Belanda dianggap sebagai penolakan pribadi Sultan.
  7. Beberapa pekan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, Sultan Syarif Kasim II mengirimkan kawat kepada Presiden Sukarno. Kawat tertanggal 28 November 1945 itu menyatakan bahwa Kesultanan Siak Sri Inderapura berdiri teguh di belakang Republik Indonesia (Husni Thamrin, Naskah Historis, Politik dan Tradisi, 2009: 201).

Belanda tak bisa terima. Sultan Syarif Kasim II dianggap memberontak. Untuk menumpas pemberontakan itu, Belanda  Belanda mendatangkan bala bantuan di bawah pimpinan Letnan Leitser yang telah berpengalaman dalam Perang Aceh. Namun, usaha Leitser untuk menumpas pemberontakan tersebut gagal. Bahkan, Leitser tewas bunuh diri pada 1932.

Seperti Rodi/ kerja paksa dimasa pendudukan Jepang juga terjadi.  Sultan Syarif Kasim II juga tetap konsisten membela rakyatnya agar menolak untuk menjadi tenaga Romusha.

Akhirnya kabar gembirapun datang  Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, (Mardanas Safwan dalam Sultan Syarif Kasim II: Riwayat Hidup dan Perjuangannya 1893-1968 (2004) Sultan Syarif Kasim II mengirim  “kawat”   bersama dengan kesediaan sultan menyumbangkan uang sebesar 13 juta gulden untuk mendukung berdirinya republik Indonesia. Uang sebesar 13 juta gulden  nominalnya kira-kira setara 69 juta euro atau lebih dari 1 triliun rupiah. Uang 13 juta gulden itulah yang diberikan oleh Sultan Syarif Kasim II kepada Presiden Republik Indonesia pertama, (Ir. Sukarno) .Dia juga disebut menyerahkan mahkota dan pedang Kesultanan Siak.

Pada Oktober 1945, Sultan Syarif Kasim II membentuk Komite Nasional Indonesia (KNI) di Siak, Dia lalu membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Barisan Pemuda Republik. Setelah badan-badan perjuangan itu terbentuk, Sultan Syarif Kasim II mengadakan rapat umum di istana dan bendera Merah Putih dikibarkan pada rapat umum itu. Bersama rakyat Siak, Sultan berikrar untuk sehidup semati mempertahankan kemerdekaan RI. Dalam rapat besar itu, Sultan Syarif Kasim II bersama segenap rakyat Siak Sri Inderapura dan tokoh-tokoh Riau mengucapkan ikrar setia untuk mempertahankan kemerdekaan RI sampai titik darah penghabisan (GN-PPNK, Riwayat Hidup Singkat dan Perjuangan Almarhum Sultan Syarif Kasim II, 2006: 3).

Untuk kedua kalinya, Sultan menyerahkan 30 persen dari kekayaannya berupa emas kepada Presiden Soekarno di Yogyakarta. Emas itu dipergunakan untuk kepentingan perjuangan. Sultan Syarif Kasim II sempat tinggal Jakarta kendati tidak menempati posisi khusus di pemerintahan. Namun kecintaannya kepada BNKRI memang harga mati, tidak dapat jabatan juga tidak melunturkan harga mati NKRI itu.

Sultan Syarif Kasim II bolak-balik ke Singapura selama beberapa tahun dan sempat tinggal di negeri bekas jajahan Inggris itu. Namun, konfrontasi Indonesia dengan Malaysia yang terjadi pada awal dasawarsa 1960-an membuat Sultan Syarif Kasim II gagal membawa pulang harta warisannya. Lantaran tidak ingin terseret dalam konflik, Sultan Syarif Kasim II pulang ke Siak. Ia menghabiskan masa tua di kampung halamannya hingga wafat pada 23 April 1968 dalam usia 76 tahun (Nizami Jamil, Negeri Siak Tanah Kelahiranku, 2008: 153).

Sultan Syarif Kasim II wafat 23 April 1968 di Rumbai, Pekanbaru, Riau. Jenazahnya dimakamkan di lingkungan Masjid Agung di Kota Siak, Riau. Pada 1998, Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Syarif Kasim II. Hal itu tertuang dalam SK Presiden RI Nomor 109/TK/1998, tertanggal 6 November 1998.

Sultan Syarif Kasim pahlawan yang cinta tanah air dan konsisten memperjuangkan kemakmuran rakyatnya. Semoga dapat menjadi tauladan oleh sivitas akademika UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Mari kita gali sejarah dan tunjuk ajar melayu yang diyakininya.

IMG_8683

IMG_8686

IMG_8693IMG_8577

IMG_8660

IMG_8661

 IMG_8663

IMG_8664

IMG_8665

IMG_8666

IMG_8670

IMG_8672

IMG_8673

IMG_8674

IMG_8675

IMG_8676

IMG_8677

IMG_8678

IMG_8679

IMG_8680

IMG_8682

IMG_8687

IMG_8688

IMG_8689

IMG_8690

IMG_8692

IMG_8693

IMG_8696

IMG_8697

IMG_8704

IMG_8705 IMG_8706 IMG_8707

IMG_8578 IMG_8580 IMG_8581 IMG_8582 IMG_8583 IMG_8584 IMG_8585 IMG_8586 IMG_8588 IMG_8589 IMG_8590 IMG_8592 IMG_8593 IMG_8594 IMG_8597 IMG_8598 IMG_8599 IMG_8600 IMG_8601 IMG_8602 IMG_8603

IMG_8605

IMG_8606

IMG_8610

IMG_8612

IMG_8615

IMG_8618

IMG_8621

IMG_8622

About khaidir alimin

Check Also

Ahmad Supardi 2

Profil Dr. H. Ahmad Supardi, MA, Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan (AUPK) UIN Sultan Syarif Kasim Riau

  uin-suska.ac.id      Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin melantik sejumlah pejabat eselon II …