Home / Berita Utama / ISAIS UIN Suska Riau Gelar FGD Hasil Assessment Terhadap Potensi dan Indikasi Terjadinya Penyebaran dan Pemahaman Kekerasan dan Radikal di Kalangan Mahasiswa
Rektor UIN Suska Riau menghadiri FGD Hasil Assesment Terhadap Potensi dan Indikasi Terjadinya Penyebaran Pemahaman Kekerasan dan Radikal di Kalangan Mahasiswa
Rektor UIN Suska Riau menghadiri FGD Hasil Assesment Terhadap Potensi dan Indikasi Terjadinya Penyebaran Pemahaman Kekerasan dan Radikal di Kalangan Mahasiswa

ISAIS UIN Suska Riau Gelar FGD Hasil Assessment Terhadap Potensi dan Indikasi Terjadinya Penyebaran dan Pemahaman Kekerasan dan Radikal di Kalangan Mahasiswa

uin-suska.ac.id     Untuk mendiseminasikan dan memformulasikan umpan balik dari hasil asesmen yang dilakukan terhadap potensi dan indikasi terjadinya penyebaran dan pemahaman kekerasan dan radikal, Institute For South-East Asian Islamic Studies (ISAIS) UIN Suska Riau menggelar Focus Group Discussion (FGD) Hasil Assesment terhadap Potensi dan Indikasi Terjadinya Penyebaran Pemahaman Kekerasan dan Radikal di Kalangan Mahasiswa. FGD yang menghadirkan peserta dari kalangan dosen, perwakilan lembaga mahasiswa, pimpinan di fakultas, pimpinan Lembaga kajian, perwakilan dari Polda Riau dan Kanwil Kementerian Agama Kota Pekanbaru dan Provinsi Riau ini dibuka oleh Wakil Rektor III UIN Suska Riau, Drs. H. Promadi, MA., Ph.D.,

Wakil Rektor III UIN Suska Riau, Drs. H. Promadi, MA., Ph.D., Membuka Acara
Wakil Rektor III UIN Suska Riau, Drs. H. Promadi, MA., Ph.D., Membuka Acara

Dalam laporan awal yang disampaikan oleh Ketua Tim Assesment, Bambang Hermanto, MA terdapat beberapa indikasi kerentanan radikalisme yang terjadi pada mahasiswa UIN Suska diantaranya Pertama, terdapat gejala adanya semangat untuk mengarah ke “Islamisme” di kalangan mahasiswa. Misalnya pada proses pemilihan Presiden Mahasiswa tahun kemaren, hampir semua calon mengusung konsep khilafah dan penegakan syari’ah Islam. Kedua, rendahnya ruang untuk terjadinya dialog. Misalnya pada kasus kedatangan Prof. Dr. Nadirsyah Husen dan beberapa Narasumber (Ulil Absar Abdala) lain, yang dianggap “liberal”. Ketiga, eksklusifisme kajian-kajian yang dilakukan oleh beberapa Lembaga Dakwah Kampus (LDK) serta Ma’had Aly. Misalnya kewajiban memakai jilbab besar pada Mahasantri perempuan serta pelarangan untuk mengikuti aktifitas organisasi PMII, dan lainnya. Munculnya bendera HTI pada acara pembukaan Perkemahan Nasional tahun lalu, yang dilakukan oleh salah satu LDK UIN Suska Riau, menjadi penegas akan kondisi tersebut. Keempat, munculnya narasi-narasi yang mengarah pada ujaran kebencian antar sesama. Penguatan narasi kebencian ini, ditandai dengan adanya halaqahhalaqah yang dilakukan oleh mahasiswa dengan tema yang cukup menyudutkan kelompok lainnya. Misalnya adalah “Islam Nusantara Merusak Aqidah”.

Data survey menyatakan terdapat 19,02% mahasiswa yang berkeinginan untuk mengusung konsep khilafah. Sementara 32.02% mahasiswa menghendaki penegakan syariah Islam dalam menyelesaikan persoalan bangsa di Indonesia. pada isu pokok tentang kekhalifahan, Penegakan Syariah Islam, dan fanatisme agama masih menguat dikalangan mahasiswa. Hal ini, terlihat pada data survei yang kami lakukan menunjukkan arah itu. Bahwa terdapat 21.96% mahasiswa beranggapan bahwa Indonesia menganut sistem sistem Thaghut, dan perlu menggantinya dengan sistem khilafah sebanyak 18.16% mahasiswa. Dalam hal perbedaan, mahasiswa menyatakan 12.27% menyatakan akan menghujat pada mereka yang berbeda, meskipun 36,93% diantara mereka sangat hormat kepada mereka yang berbeda.

Peserta FGD Menyimak Pemaparan Narasumber
Peserta FGD Menyimak Pemaparan Narasumber

Dalam sesi diskusi cukup banyak sumbang saran yang disampaikan oleh peserta terutama terkait instrumen penelitian serta data dan informasi yang disajikan. Dari 1000 angket yang disebar melalui Google Form hanya 815 angket yang diisi oleh responden, 63,3% responden adalah perempuan, sisanya laki-laki. Waktu pelaksanaan survey yang dilakukan di saat mahasiswa sedang libur semester, latar belakang Pendidikan mahasiswa yang tidak terdata, serta pengambilan kesimpulan yang dinilai kurang tepat menjadi beberapa catatan dalam diskusi. Prof. Dr. H. Munzir Hitami, MA juga memberikan masukan untuk pelaksanaan Asesmen berikutnya, “Selain kritik dan masukan dari peserta yang lain, latar belakang lingkungan atau tempat tinggal responden juga perlu untuk di data, agar hasil yang didapat tidak bias,” pinta mantan Rektor UIN Suska Riau periode 2014-2018 ini. Senada dengan Prof. Munzir Hitami, akademisi Dr. Elfiandri, S.Ag ,M.Si menyorot beberapa pertanyaan di dalam survey yang ia nilai tidak sesuai dengan judul dan tujuan, “Bila dilihat dari hasil survey yang disajikan, sebagian besar responden justru menjawab “Ragu” pada hampir sebagian besar pertanyaan. Ini perlu diluruskan”, tegasnya.

Cukup banyak sumbang saran yang disampaikan oleh peserta terutama terkait instrumen penelitian, data dan informasi yang disajikan
Cukup banyak sumbang saran yang disampaikan oleh peserta terutama terkait instrumen penelitian, data dan informasi yang disajikan

Wakil Direktur Eksekutif ISAIS, Drs. Dardiri Husni, MA menyatakan, sumbang saran atas beberapa persoalan tadi menjadi catatan penting untuk melakukan asesmen lanjutan atas permasalahan ini. “Bagi kami, dapat memahami persoalan yang sesungguhnya terkait dengan persoalan ini adalah hal penting sehingga bisa dikelola menjadi wacana publik yang lebih adem dan menyejahterakan. Kejujuran tim dalam menyampaikan data dan informasi juga menjadi modal awal dan nilai yang positif bagi pengembangan kajian ini kedepan, ujarnya.

Peserta WR II

 

 

 

About aini khalidah

Check Also

Ahmad-Supardi

Ceramah Dr. H. Ahmad Supardi, MA di Mesjid Al Jami’ah UIN Suska Riau 12 April 2019

uin-suska.ac.id              Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan UIN Suska …