Home / Berita Utama / Kuliah Umum ISAIS: Islam Wasathiyah Agar Umat Tidak Terpecah-belah
IMG_9163

Kuliah Umum ISAIS: Islam Wasathiyah Agar Umat Tidak Terpecah-belah

Institute for South-east Asian Islamic Studies (ISAIS) UIN Sultan Syarif Kasim Riau menggelar Kuliah Umum bertema “Urgensi Pemahaman Sejarah Bagi Pembentukan Sikap dan Intelektual yang Moderat”, Kuliah umum ini cukup istimewa karena menghadirkan narasumber Cendekiawan Muslim Indonesia, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA., CBE. Kegiatan yang dihadiri, ratusan dosen dan mahasiswa ini berlangsung di aula Lantai V Gedung Rektorat.

Rektor UIN Suska Riau, Prof. Dr. H. Akhmad Mujahidin, S. Ag., M. Ag  dalam sambutannya menyatakan menyambut baik atas terlaksananya kegiatan ini. “Kegiatan ini merupakan Kegiatan yang tak terpisahkan dari ruh perjuangan bangsa dimasa lalu. Banyak pemimpin bangsa di masa lalu yang menyumbangkan pemikiran dan gagasan untuk kemajuan bangsa ini, jangan sampai kita melupakan sejarah” tegas Rektor.

Rektor UIN Suska Riau, Prof. Dr. H. Akhmad Mujahidin, S. Ag., M. Ag
Rektor UIN Suska Riau, Prof. Dr. H. Akhmad Mujahidin, S. Ag., M. Ag

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sementara itu, Dr. Alimuddin Hasan, M. Ag, Direktur ISAIS menyatakan bahwa kegiatan ini sudah menjadi program kerja ISAIS. Kedepan, selain mendatangkan tokoh-tokoh seperti Azyumardi Azra, ISAIS juga akan melaksanakan kursus studi naskah-naskah arab, pengantar metodelogi studi Islam dan berbagai kegiatan positif lainnya. “Kegiatan-kegiatan ini diiringi dengan mendatangkan tokoh-tokoh bangsa lainnya seperti  Cak Nun dan Gus Mus,” jelasnya.

Direktur ISAIS, Dr. Alimuddin Hasan, M. Ag
Direktur ISAIS, Dr. Alimuddin Hasan, M. Ag

Sebelum Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA., CBE menyampaikan kuliah umum, Rektor UIN Suska Periode 2014-2018 Prof. Dr. H. Munzir Hitami, MA turut menyampaikan pengantar awal rencana perkuliahan dalam memahami ulang sejarah. “Mengkaji sejarah artinya Mengkaji karya-karya orang sebelum kita, mengkaji karya-karya yang monumental. Hal ini perlu untuk dilakukan,” tegas Prof. Munzir.

IMG_9216

Dalam memahami teks agama saat ini terjadi kecenderungan terpolarisasinya pemeluk agama dalam dua kutub ekstrem. Satu kutub terlalu mendewakan teks tanpa menghiraukan kemampuan akal atau nalar. Kutub lain sebaliknya, terlalu mendewakan akal pikiran sehingga mengabaikan teks. Kedua kutub ini sama bahayanya.

IMG_9193

Permasalahan ini membuat umat terpecah. Karena itu, perlu pemahaman dan pengamalan bangsa yang moderat. Bagi terbentuknya intelektualisme Islam yang wasyatiah atau moderat kita perlu mengambil pelajaran dari sejarah masa lalu agar tidak berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama. “Mohon maaf ya, sebagian kita lebih bodoh dari kedelai karena tidak bisa mengambil pelajaran dari masa lalu. Kesalahan masa lalu diulang-ulang kembali. Sejak dulu bila ummat Islam selalu berkelahi maka akan mudah dihancurkan, disinilah perlunya Islam yang Wasathiyah, yang tidak terlalu berat kekiri juga tidak terlalu berat ke kanan, moderat, ada ditengah-tengah,” Jelas pria yang meraih gelar kehormatan dari kerajaan Inggris ini.

Pembentukan Tradisi Wasathiyah di Indonesia dimulai dari masa penyebaran Islam, Islamisasi dilakukan secara damai. Kerajaan juga memegang peranan penting; relasi dengan ulama sangat baik. “Untuk di Riau contohnya dengan Kesultanan Siak. Hubungan simbiotik sultan dengan ulama atau penyiar Islam harus diungkap, untuk menjadi pembelajaran,” ujar peraih gelar MA dari Columbia University ini.

IMG_9146

Selain itu, Corak Islam berupa Fiqh/ Syariah-Tasauf yang menyebabkan konflik akomodasi dan rekonsuliasi dengan tradisi lokal. Bisa diistilahkan dengan Islam embedded, Islam yang corak kemelayuannya melekat melalui proses akulturasi. “Jika ada kelompok yang menolak ini sekarang maka ini adalah sikap yang memunculkan tindakan ekstrim karena bagaimanapun juga agama itu berkembang tidak di ruang yang kosong tapi sudah memiliki sistem nilai, sistem budaya. Semakin terakulturasi maka akan semakin lekat Islam di dalamnya,” terang pria kelahiran Lubuk Alung ini.

IMG_9253

Tidak ada Islam di dunia yang sekaya Indonesia. Ada ribuan pesantren, Hal ini merupakan warisan yang sangat khas Indonesia. Pesantren-pesantren dan Sekolah/ Universitas muncul dari tradisi kemandirian yang tidak tergantung kekuasaaan. “Kenapa ini bisa terjadi karena Lembaga-lembaga ini bukan dibiayai oleh pemerintah, mandiri jadi bisa maju.” Jelasnya lagi.

Masa depan Islam adalah Islam yang mendukung perkembangan sains dan teknologi, ilmu dan inovasi. Kehadiran Universitas Islam Negeri (UIN) itu mutlak karena dari UIN lah Indonesia akan mendapatkan ahli teknologi, ahli pertanian dan peternakan, farmasi dan kedokteran. “Umat Islam Indonesia ini terlalu besar masalahnya kalau harus diselesaikan oleh orang lain, jadi harus kita sendiri yang menyelesaikannya. Kalau umat Islam maju maka Indonesia akan maju. Kalau ummat Islam terbelakang maka Indonesia akan terbelakang. Jadi dari UIN inilah akan lahir orang-orang yang berfikiran maju yang akan mengurus permasalahan bangsa ini.” Pungkas Guru Besar Sejarah ini.

IMG_9271

IMG_9173

 

About aini khalidah

Check Also

Foto Bersama Narasumber

Fakultas Sains dan Teknologi UIN Suska Riau menggelar seminar nasional teknologi informasi komunikasi dan industri ke-XI (SNTIKI ke 11)

Uin-suska.ac.id      Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN-Suska) Riau kembali menggelar …