web analytics

Oleh: Prof Dr KH Akhmad Mujahidin, S.Ag, M.A.g

(Rektor UIN Suska Riau)

uin-suska.ac.id– Covid-19 atau Virus Corona Disease yang muncul pada awal Desember 2019 di Wuhan China kini menjadi hantu paling menakutkan di dunia. Virus ini hingga 14 Maret 2020, menurut real time Worldometers (Sabtu, 14 Maret 2020) tercatat telah menyebar ke-169 negara dan menginfeksi 145.637  orang dengan kematian 5.416  jiwa. Virus ini sangat cepat penyebarannya dan belum ditemukan vaksinnya. Organisasi Kesehatan Dunia WHO pada awal Februari 2020 telah menyatakan darurat global atas virus ini dan pada 11 Maret Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi.

Kini dunia panik dan “tergopoh-gopoh” menghadang laju penyebaran virus ini. Sejumlah kota di Eropa lockdown. Bahkan Italia negara kedua terbanyak kasus Corona setelah China telah menutup akses bagi dunia luar. Setiap orang ‘saling curiga’ sehingga tidak lagi bersalaman.

Kita tak dapat meremehkannya. Virus ini terus menyebar mendekati lingkungan terdekat kita. Di Indonesia sendiri tercatat ada 69 kasus dengan kematian 5 orang Ahad (14/03). John Hopkins University and Medicine bahkan menempatkan Indonesia sebagai negara nomor dua dalam persentasi kematian (5.20 %) setelah Italia yang 7.16% dari total kasus. Yang sangat mengkhawatirkan adalah terjadi lonjakan sangat cepat dari 34 kasus dalam sehari bertambah 35 sehingga menjadi 69. Tercatat 35.000 cuitan di tweeter yang mengusung tagar lockdown Indonesia hingga pukul 10.10 WIB pada Ahad 14 Maret 2020. Ini menunjukkan betapa khawatirnya penyebaran virus ini jika langkah-langkah yang tepat tidak segera diambil.

Selanjutnya, angka-angka kasus infeksi Covid-19 di atas bukan angka mati. Akan terus bertambah berlipat-lipat jika tak ada penanganan sistematik, terlembaga, dan penuh kedisiplinan tinggi dari semua pihak.

Virus Covid-19 bukanlah virus rasis yang hanya menyerang satu suku bangsa tertentu. Virus ini telah menyerang secara global tanpa memandang suku, agama, ras, golongan, dan bangsa. Semua negara secara global menghadapi ancaman yang sama. Setiap bangsa juga diuji ketangkasannya dalam meredam pandemi Covid-19 ini.

 

Sejarah Yang Terus Berulang

Kita tidak tahu kapan virus Covid-19 ini akan mereda. Pada tahun 2003, kerabat dekat Covid-19, virus SARS, menelan korban global 774 orang dari 8.100 kasus. Demikian pula virus MERS pada tahun 2012. Artinya, virus Corona atau Covid-19 telah melampaui jumlah korban SARS dan juga MERS hanya dalam dua setengah bulan. Kita berharap virus Covid-19 ini cepat tertangani dan dunia kembali damai.

Tapi, apakah dunia yang damai dan aman dari perang dan virus dapat terwujud di masa depan? Memprediksi masa depan yang aman dari keduanya sangatlah berat karena kehidupan makin sesak dan lingkungan bumi makin rusak. Ledakan penduduk yang cepat, industrialisasi yang serakah, dan konsumsi yang terus meningkat akan menyertakan problem-problem hidup yang tidak ringan.

Teknologi transportasi memudahkan transfer virus dengan cepatnya. Globalisasi membuat segalanya berpindah tanpa batas. Era modern dengan seluruh peradabannya terancam runtuh, jika dunia tak membuat langkah-langkah besar untuk mengatasinya. Ketidakdisiplinan satu negara dalam penanganan Covid-19, dapat mengacaukan keselamatan semua negara. Negara-negara saling tergantung dan diperlukan kerjasama.

Ketakutan dunia atas Covid-2020 didasarkan pada pengalaman sejarah. Saat ilmu pengetahuan belum maju, virus-virus sering dianggap sebagai kutukan dan penanganannya lebih bersifat teologis. Penanangan berbasis teologis hanya menenangkan tapi korban-korban terus berjatuhan. Sampai akhirnya sains menemukan vaksin dan mengidentifikasi penyebaran virusnya.

Dalam sejarah, Asia dan Eropa pada tahun 1346-1351 M, pernah diserang virus Yersinia pestis yang dikenal dengan black death atau wabah pes. Awalnya dari 12 kapal yang mendarat di pelabuhan Sisilia Messina Spanyol. Eropa kalang kabut karena hampir sepertiga penduduknya mati. Negara-negara Timur Tengah, Mesir, Suriah, Mekah, dan lain-lain juga tak luput dari ganasnya wabah pes ini.

Ganasnya virus ini diabadikan dalam buku-buku Barat dan Timur. Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah menyatakan wabah pes menyerang peradaban Timur dan Barat dan menewaskan banyak penduduk yang mengurangi populasi. Kota-kota dan banyak bangunan ditinggalkan; jalan-jalan senyap; dan seluruh tempat tinggal di negara-negara tersebut telah berubah (the Muqaddimah edisi 2, terj. F. Rosenthal).

Penulis Muslim lain, Ibnu Batutah dalam memoarnya al Rihla, merekam wabah yang menewaskan penduduk 2000 orang setiap harinya di Suriah dan Mesir dengan sangat pilu. Ia menulis, “Orang-orang Islam keluar bersama-sama berjalan kaki sembari membawa Al-Qur’an di tangan mereka. Seluruh warga kota itu bergabung dalam eksodus, laki-laki dan perempuan, besar dan kecil. Kaum Yahudi keluar dengan kitab Taurat dan kaum Kristen dengan Injilnya, bersama isteri dan anak-anak mereka. Mereka semua dalam air mata dan doa, memohon kemurahan Tuhan melalui kitab-kitab suci dan Nabi-Naninya” (dikutip dari Ross E. Dunn, 1986).

Di Eropa seperti dilaporkan Austin Alchon, Suzanne (2003), seorang ibu menguburkan tiga orang anaknya dan sehari kemudian suaminya saat wabah pes mengganas. Fenomena ini merata hingga menurunkan secara drastis populasi Eropa.

Gambaran ganasnya virus yersinia pestis di atas dapat menjadi pelajaran bahwa kehidupan memerlukan kerjasama dan pencarian tiada henti vaksin-vaksin yang tepat melalui sains. Agama-agama juga penting untuk membuat manusia lebih arif dalam berperan sebagai khalifatullah di muka bumi.

 

Virus-Virus dan Ayat-Ayat Tuhan

Virus-virus apapun jenis dan namanya, akan terus berevolusi. Dan dunia tak pernah sepi dari ancaman ini. Virus-virus adalah juga makhluk Tuhan yang ingin hidup. Mereka selalu mencari ruang tumbuh untuk melestarikan DNA mereka melalui self-replicate dengan sangat cepatnya. Itulah sebabnya, virus-virus ini, meminjam istilah Richard Dawkins dalam bukunya Selfish-Gen, selalu mengejar buat dirinya untuk terus hidup. Maka hewan-hewan seperti kelelawar, ular, tikus, ayam, dan lain-lain sering menjadi lahan empuk bagi ruang tumbuh virus-virus ini. Penularan, karena itu, melalui hewan ke manusia dan akhirnya dari manusia ke manusia.

Dalam karya Jarred Diamond “Guns, Germs, and Steel” yang terbit tahun 1997, pada dasarnya manusia terus berperang melawan virus namun akhirnya tetap kalah. Setiap kematian di usia tua manusia selalu diserang oleh virus saat sel-selnya mulai tak berdaya. Di sisi lain, manusia juga selalu membunuh virus melalui disinfektan dan vaksin.

Influensa, menurut Jarred Diamond, awalnya merupakan virus yang menyerang flu ayam lalu berpindah ke manusia. Selanjutnya, manusia menularkan ke sesamanya. Ayam adalah binatang yang berasal dari China dan dibawa ke sejumlah negara dan Indonesia melalui migrasi. Nah, SARS, MERS, dan Covid-19 adalah kerabat dekat yang berasal dari virus flu biasa. Seperti manusia, virus-virus selalu menurunkan anak cucu-anak cucu yang lebih tangguh agar terus hidup melawan vaksin. Hukum evolusi telah mengajarkan secara adil pada makhluk hidup apapun, termasul makhluk kecil berukuran 20-150 nanimeter ini.

Nah, karena itu, virus-virus ini mengajarkan banyak hal kepada manusia untuk tetap belajar, bersikap arif, rendah hati, dan bekerjasama. Nampaknya, Tuhan menjadikan virus-virus mikroskopik ini sebagai bagian dari ayat-ayat-Nya untuk mengingatkan manusia terus memerankan diri secara adil dan arif sebagai wakil-Nya di muka bumi.***