Home / Kolom Guru Besar / Solusi UMKM di New Normal
20200617_042103

Solusi UMKM di New Normal

Oleh Leny Nofianti

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Suska Riau

PANDEMI Covid 19¬ memberi dampak bagi sektor-sektor bisnis. Ada sektor yang berdampak langsung ditandai dengan penurunan omzet seperti sektor pariwisata, transportasi, konstruksi, manufaktur otomatif, industri garmen dan perhotelan, sedangkan sektor yang bertahan dan mengalami peningkatan omzet adalah farmasi dan kesehatan, teknologi informasi dan komunikasi serta bisnis retail dan makanan¬.
Berdasarkan pertumbuhan year on year, perekonomian Indonesia pada triwulan I 2020 terbesar pada sektor informasi dan komunikasi sebesar 0.53 persen. Hal ini sangat erat kaitannya dengan adanya kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk tidak keluar rumah dan bekerja dari rumah. Sehingga aktivitas yang dijalankan bergeser dari infrastruktur fisik menjadi infrastruktur digital. Hampir semua kegiatan seperti bekerja, pendidikan, hiburan diakses menggunakan media teknologi informasi, selanjutnya juga menyebabkan volume penjualan listrik PLN ke rumah tangga juga meningkat.
Berdasarkan hasil survey sebanyak 96 persen pelaku UMKM mengaku sudah mengalami dampak negatif Covid-19 terhadap persen bisnisnya. Sebanyak 75 persen diantaranya mengalami dampak penurunan penjualan yang signifikan. Sebanyak 51 persen pelaku UKM meyakini kemungkinan besar bisnis yang dijalankan hanya akan bertahan satu bulan hingga tiga bulan kedepan. Sebanyak 67 persen pelaku UKM mengalami ketidakpastian dalam memperoleh akses dana darurat dan 75 persen merasa tidak mengerti bagaimana membuat kebijakan di masa krisis. Sementara, hanya 13 persen pelaku UKM yakin, mereka memiliki rencana penanganan krisis untuk mempertahankan bisnis mereka.
Kondisi social masyarakat kita yang memiliki sikap solidaritas yang tinggi juga menjadi salah satu kekuatan untuk dapat survive dalam kondisi pandemi ini. Sikap kepedulian yang tinggi, saling membantu dan besosialisasi terhadap sesama dapat membantu pemerintah dalam menanggulangi pandemi ini. Indonesia menduduki peringkat kelima dunia dari sisi kekuatan modal sosialnya, dan rangking paling atas dalam hal indeks memberi (Word giving index). Tapi jika kondisi pendemi ini belarut-larut maka kekuatan modal sosial ini juga akan berkurang, karena berdampak pada semua lini masyarakat.
Terdapat beberapa solusi yang dapat diambil, antara lain : a) pemberdayaan pelaku usaha UMKM lewat bisnis. b). kerjasama yang baik antara pemerintah, masyarakat (tokoh masyarakat, akademisi, praktisi) dengan pelaku usaha UMKM. c) menggerakkan “sosialpreneuship”. Pemberdayaan pelaku usaha UMKM lewat bisnis online dapat dilakukan dengan strategi memaksimalkan teknologi, pelaku UMKM dapat melakukan promosi dari tradisional menuju pemasaran secara digital (digital marketing) misalnya melalui sosial media (facebook, instagram, twitter, whatshapp dan sebagainya), melakukan pencatatan /pembukuan menggunakan software akuntansi dan sistem pengajian menggunakan payroll. Selanjutnya strategi yang dapat dilakukan pelaku usaha adalah meningkatkan jejaring/relasi dan meningkatkan kualitas produk dan layanan dengan salah satunya melakukan diversifikasi produk agar produk keunggulan dan keunikan sehingga selalu diminati oleh konsumen. Masa pandemi ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang berharga dalam usaha meningkatkan kualitas produk dan perbaikan pelayanan.
Solusi lainnya, melakukan kerja sama yang baik dengan pemerintah melalui dinas koperasi dan UMKM dan kegiatan pengabdian masyarakat oleh para akademisi dan praktisi yang paham dan mengerti mengenai teknologi informasi dalam usaha meningkatkan digital marketing, pemanfaatan pembukuan dengan software dan sebagainya. Solusi terakhir yaitu mengembangkan “sosialpreneurship” berupa program-program sosial yang dikemas dengan jiwa entrepreneurship agar program sosial tersebut dapat suistainable.
Sosialpreneurship merupakan suatu konsep kewirausahaan yang memanfaatkan peluang bisnis yang ada ditengah masyarakat untuk kembali memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. Sosial preneurship selain bersifat suistainable pada perekonomian,sosial preneurship mampu memberikan solusi efektif dan taktis terhadap permasalahan perekonomian Indonesia.
Alasan perlu dikembangkan sosial preneurship didukung oleh kondisi sosial masyarakat kita yang memiliki sikap solidaritas yang tinggi juga menjadi salah satu kekuatan untuk dapat survive dalam kondisi pandemi ini.pelaku usaha UMKM sebagai salah satu penggerak perekonomian bangsa harus bisa bertahan dan bangkit dalam kondisi pandemi ini. Antusiasme pemerintah menuju new normalitas diharapkan sebagai peluang dalam menciptakan kemandirian ekonomi secara berkelanjutan. Keterlibatan dan kerjasama yang baik antara pemerintah , pelaku sejarah , UMKM, tokoh masyarakat, akademisi , praktisi dan masyarakat, secara bersama-sama dapat membangkitkan lagi perekonomian bangsa menuju ekonomi yang stabil.

 

Terbit di Riau Pos tanggal 15 Juni 2020

About Jasnida Jasnida

Check Also

00-akhmad-mujahidin

Berinteraksi dengan Alquran (Prof. Dr. Akhmad Mujahidin)

Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan …